SyarahHadis Arbain Ke-5: Perbuatan Bidah Tertolak. Hadis yang dibahas merupakan jawamiโ€™ul kalim [singkat namun penuh makna] yang dikaruniakan kepada Rasulullah saw.. Hadis ini dengan tegas menolak setiap perkara bidah dan setiap perkara (dalam urusan agama) yang direkayasa. Melalui hadis ini, kemurnian Islam terjaga dari tangan orang-orang HaditsArbain An-Nawawiyah yang Pertama Ilustrasi (Sumber: Admin/2021) 1 min. by tahun ago 1 tahun ago. Kitab ini menjadi favorit di kalangan santri untuk memulai menghafal hadits-hadits Nabi sebelum beralih ke kitab-kitab yang lebih besar. Langsung saja, di hadits yang pertama ini mengandung makna tiap amalan bergantung Hadisini memiliki keistimewaan berupa kedalaman dan kepadatan makna yang dikandung oleh lafaznya yang ringkas. Inilah yang disebut sebagai jawฤmiโ€™ al-kalim yang telah dianugerahkan Allah kepada Rasulullah แนฃallallฤhu โ€˜alayhi wa sallam. Ibnu al-Samโ€™ฤni berkata, โ€œHadis ini adalah bagian terbesar fondasi agama. Assalamualaikum wr wb Muslim Daily merupakan aplikasi all in one untuk semua muslim di seluruh dunia. Dengan fitur yang lengkap sehingga anda tidak lagi perlu bertukar aplikasi untuk kegiatan ibadah sehari hari. Fitur aplikasi Muslim Daily ini adalah sebagai berikut : - SyarahHadits ke-7 dan ke-8 AGAMA ITU NASEHAT DAN PERINTAH MEMERANGI ORANG YANG TIDAK SHOLAT DAN ZAKAT Disampaikan Oleh : Abรป Salmรข Muhammad 9 SYARAH HADITS ARBAIN NAWAWI e-Paper Kajian Kitab Online Live Via Mixlr dan Skype 9 Nasehat bagi kaum muslimin secara umum, yang inti islam tercakup dalam tiga hadits, hadits Umar (amalan tergantung pada niatnya), hadits Aisyah (barangsiapa yang berbuat sesuatu yang tidak ada ajaran kami di dalamnya), hadits Nuโ€™man bin Basyir (yang halal jelas dan yang haram jelas).โ€ Kitab Jamiโ€™ul Ulum Wal-Hikam (1/61) 2. Fungsi niat dalam agama terbagi menjadi tiga: a. . KETIKA membaca atau mendengar hal yang dilarang maupun diperintahkan, tak jarang kita selalu banyak bertanya mengapa tidak boleh mengapa harus begitu. Terkadang logika kita selalu terlebih dahulu muncul sebelum melaksanakannya. Mari kita meniliki hadis arbain ke 9 berikut ini Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiallahu anhu dia berkata Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka yang tidak berguna dan penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka. Bukhari dan Muslim Baca Juga Hadis Arbain 37 Kebaikan yang Dilipatgandakan Pelajaran yang dapat kita ambil dari kandungan hadis tersebut antara lain 1. Wajibnya menghindari semua apa yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam. 2. Siapa yang tidak mampu melakukan perbuatan yang diperintahkan secara keseluruhan dan dia hanya mampu sebagiannya saja maka dia hendaknya melaksanakan apa yang dia mampu laksanakan. 3. Allah tidak akan membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. 4. Perkara yang mudah tidak gugur karena perkara yang sulit. 5. Menolak keburukan lebih diutamakan dari mendatangkan kemaslahatan. 6. Larangan untuk saling bertikai dan anjuran untuk bersatu dan bersepakat. 7. Wajib mengikuti Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, taโ€™at dan menempuh jalan keselamtan dan kesuksesan. 8. Al Hafiz berkata Dalam hadis ini terdapat isyarat untuk menyibukkan diri dengan perkara yang lebih penting yang dibutuhkan saat itu ketimbang perkara yang saat tersebut belum dibutuhkan. Apa yang dilarang dan diperintahkan oleh Rasulullah tentu mengandung kebaikan dan hikmah. Melaksanakan semampu dan sekuat kita akan menambah pahala bagi kita. [Ai/Ln] Sumber ebook Hadits Arbaโ€™in Nawawiyah, Muhyiddin Yahya bin Syaraf Nawawi, Penerjemah Abdullah Haidhir, DR. Muh. Muโ€™inudinillah Bashri, Maerwandi Tarmizi, Hadits ke 9ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุจู’ู†ู ุตูŽุฎู’ุฑ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู’ู„ู ู…ูŽุง ู†ูŽู‡ูŽูŠู’ุชููƒูู…ู’ ุนูŽู†ู’ู‡ู ููŽุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆู’ู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽู…ูŽุฑู’ุชููƒูู…ู’ ุจูู‡ู ููŽุฃู’ุชููˆุง ู…ูู†ู’ู‡ู ู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽุทูŽุนู’ุชูู…ู’ุŒ ููŽุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽูƒูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ู†ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽูƒูู…ู’ ูƒูŽุซู’ุฑูŽุฉู ู…ูŽุณูŽุงุฆูู„ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงุฎู’ุชูู„ุงูŽููู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ุจููŠูŽุงุฆูู‡ูู…ู’ .[ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู…]Terjemah hadits / ุชุฑุฌู…ุฉ ุงู„ุญุฏูŠุซ Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiallahuanhu dia berkata Saya mendengar Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka yang tidak berguna dan penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka.Bukhori dan MuslimPelajaran Wajibnya menghindari semua apa yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi yang tidak mampu melakukan perbuatan yang diperintahkan secara keseluruhan dan dia hanya mampu sebagiannya saja maka dia hendaknya melaksanakan apa yang dia mampu tidak akan membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan kadar yang mudah tidak gugur karena perkara yang keburukan lebih diutamakan dari mendatangkan untuk saling bertikai dan anjuran untuk bersatu dan mengikuti Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi wasallam, taโ€™at dan menempuh jalan keselamatan dan Hafiz berkata Dalam hadits ini terdapat isyarat untuk menyibukkan classi dengan perkara yang lebih penting yang dibutuhkan saat itu ketimbang perkara yang saat tersebut belum dibutuhkan. รˆร“รฃ ร‡รกรกรฅ ร‡รกร‘รรฃรค ร‡รกร‘รรญรฃ HADITS KE โ€“ 9 รšรณรครบ รƒรณรˆรถรญ รฅรตร‘รณรญรบร‘รณร‰รณ รšรณรˆรบรรถ ร‡รกร‘รธรณรรบรฃรครถ รˆรบรครถ ร•รณรŽรบร‘รฒ ร‘รณร–รถรญ ร‡รกรกรฅรต รšรณรครบรฅรต รžรณร‡รกรณ ร“รณรฃรถรšรบรŠรต ร‘รณร“รตรฆรกรณ ร‡รกรกรฅรถ ร•รณรกรธรณรฌ ร‡รกรกรฅรต รšรณรกรณรญรบรฅรถ รฆรณ ร“รณรกรธรณรฃรณ รญรณรžรตรฆรบรกรต รฃรณร‡ รครณรฅรณรญรบรœรŠรตรŸรตรฃรบ รšรณรครบรฅรต รรณร‡รŒรบรœรŠรณรครถรˆรตรฆรบรฅรต รฆรณรฃรณร‡ รƒรณรฃรณร‘รบ รŠรตรŸรตรฃรบ รˆรถรฅรถ รรณรƒรบรŠรœรตรฆรบร‡ รฃรถรครบรฅรต รฃรณร‡ร‡ร“รบรœรŠรณร˜รณรšรบรœรŠรตรฃรบ รรณร…รถรครธรณรฃรณร‡ รƒรณรฅรบรกรณรŸรณ ร‡รกรธรณรถรญรบรครณ รฃรถรครบ รžรณรˆรบรกรถรŸรตรฃรบ รŸรณร‹รบร‘รณร‰รต รฃรณร“รณร‡ร†รถรกรถรฅรถรฃรบ รฆรณร‡รŽรบรœรŠรถรกร‡รณรรตรฅรตรฃรบ รšรณรกรฌรณ รƒรณรครบรˆรถรœรญรณร‡ร†รถรฅรถรฃรบ ร‘รณรฆรณร‡รฅรต ร‡รกรˆรตรŽรณร‡ร‘รถรญรธรต รฆรณ รฃรตร“รบรกรถรฃรฑ Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr Radhiyallahu anhu berkata Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda โ€œApa-apa yang telah aku larang untukmu, maka jauhilah dan apa-apa yang telah aku perintahkan kepadamu, maka kerjakanlah sedapat-dapatmu. Bahwasanya celakanya orang-orang sebelum kamu hanya karena banyak pertanyaan-pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap Nabi-Nabi merekaโ€. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. KEUTAMAAN HADITSSebagaimana hadits-hadits yang lain dalam Al-Arbaโ€™in An-Nawawiyyah, maka hadits ini juga termasuk hadits yang pokok yang pernah diucapkan oleh Rasulullah s. Yang menunjukkan keutamaan hadits ini karena hadits ini hadits ini memuat salah satu kaidah yang penting dalam agama Islam, yaitu ร‡รกรบรฃรณร”รณรžรธรณร‰รต รŠรณรŒรบรกรถรˆรต ร‡รกรœรŠรธรณรœรญรบร“รถรญรบร‘รณ โ€œKesulitan menyebabkan/mengantarkan kepada kemudahanโ€Dan ini termasuk salah satu dari lima kaidah yang besar dalam agama Islam. Dan kaidah itu salah satunya diambil dari hadits ini, karenanya Imam Nawawi ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ mengatakan bahwa hadits ini mengandung salah satu kaidah yang penting dalam Islam. Hadits ini juga menjelaskan tentang salah satu maqashid dari Ad Din tujuan dari Ad Din, yaitu larangan tasyabbuh terhadap orang-orang terdahulu, terutama dari kalangan ahlul kitab. Oleh karena itu hadits ini termasuk hadits yang pokok, yang penting untuk dihafalkan, dipelajari, dan diamalkan isinya. SAHABAT YANG MERIWAYATKAN HADITS ๏€ฏรšรณรครบ รƒรณรˆรถรญ รฅรตร‘รณรญรบร‘รณร‰รณ รšรณรˆรบรรถ ร‡รกร‘รธรณรรบรฃรครถ รˆรบรครถ ร•รณรŽรบร‘รฒ ร‘รณร–รถรญ ร‡รกรกรฅรต รšรณรครบรฅรต โ€ฆ Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Beliau adalah shahabat yang mulia yang diikhtilafkan nama aslinya. Imam Ibnul Jauzi ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ mengatakan bahwa ada sekitar 18 nama yang dinisbahkan kepada Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Yang paling terkenal kata Ibnul Jauzi adalah AbdusySyams artinya hambanya matahari, tapi ini sebelum beliau masuk Islam. Adapun sesudah beliau masuk Islam, namanya adalah Abdullah. Jadi Ibnul Jauzi ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ mentarjihkan bahwa namanya adalah Abdullah . Namun pendapat yang paling banyak dan ini yang dipilih oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ bahwa nama dari Abu Hurairah adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad Dausy. Dan inilah yang rajih -Insya Allah-. Abu Hurairah adalah kunniyah yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, karena Rasulullah pernah mendapati beliau radhiyallahu anhu bersama kucing kecil hurairah = kucing kecil. Bahkan kadang beliau berjalan lalu memasukkan kucing kecil itu ke kantong beliau. Sebagian ulama, diantaranya Imam Ath Thufi ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ mengatakan bahwa beliau begitu menyukai kucing, karena beliau pernah meriwayatkan hadits mengenai seorang wanita yang masuk neraka karena kucing รšรณรครบ รƒรณรˆรถรญ รฅรตร‘รณรญรบร‘รณร‰รณ รƒรณรครธรณ ร‘รณร“รตรฆรกรณ ร‡รกรกรธรณรฅรถ ร•รณรกรธรณรฌ ร‡รกรกรธรณรฅรต รšรณรกรณรญรบรฅรถ รฆรณร“รณรกรธรณรฃรณ รžรณร‡รกรณ รšรตรธรถรˆรณรŠรถ ร‡รฃรบร‘รณรƒรณร‰รฑ รรถรญ รฅรถร‘รธรณร‰รฒ รกรณรฃรบ รŠรตร˜รบรšรถรฃรบรฅรณร‡ รฆรณรกรณรฃรบ รŠรณร“รบรžรถรฅรณร‡ รฆรณรกรณรฃรบ รŠรณรŠรบร‘รตรŸรบรฅรณร‡ รŠรณรƒรบรŸรตรกรต รฃรถรครบ รŽรณร”รณร‡ร”รถ ร‡รบรกรƒรณร‘รบร–รถ ร‘รฆร‡รฅ รฃร“รกรฃ โ€œDari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda โ€œDiadzab seorang wanita karena kucing, dia tidak memberinya makan, tidak memberinya minum dan tidak membiarkannya makan dari serangga yang ada di bumiโ€.HR. MuslimMungkin karena hal tersebut, beliau mengambil qiyas al aks kebalikannya bahwa jika orang yang menyiksa kucing masuk neraka, maka orang yang mencintai kucing akan masuk surga, sehingga beliau ๏ด terdorong untuk mencintai kucing. Beliau adalah seorang shahabat yang terlambat masuk Islam, dalam artian tidak termasuk dalam assaabiquunal awwaluun. Beliau radhiyallahu anhu belum masuk Islam ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masih di Makkah, bahkan ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah berhijrah dan mengikuti beberapa perang seperti perang Badr, perang Uhud, dan banyak perang lainnya. Nantilah pada tahun terjadinya perang Khaibar Abu Hurairah radhiyallahu anhu mendatangi kota Madinah untuk masuk Islam, namun ternyata beliau tidak mendapati Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam waktu itu bersama sahabatnya berada di Khaibar untuk berjihad melawan orang-orang Yahudi di tahun ke 7 H. Di situlah pertama kali Abu Hurairah radhiyallahu anhu bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dari sini dapat diketahui bahwa Abu Hurairah radhiyallahu anhu berada bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hanya kurang lebih tiga setengah tahun saja karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat pada tahun ke 11 H. Dan inilah yang merupakan syubhat yang dimunculkan oleh musuh-musuh Islam, baik dari dalam maupun dari luar Islam. Dari luar Islam, orang-orang orientalis senantiasa meragukan riwayat-riwayat yang datang dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dengan alasan bahwa tidak mungkin Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang hanya menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kurang lebih tiga setengah tahun bisa meriwayatkan begitu banyak hadits. Dan ini pula yang dikatakan oleh orang-orang Syiโ€™ah Rafidhah yang banyak meragukan dan menolak hadits-hadits yang datang dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dengan alasan yang sama bahwa mengapa Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang hanya bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kurang lebih tiga setengah tahun bisa meriwayatkan hadits yang begitu banyak dari pada shahabat-shahabat lain yang masuk Islam pada awal-awal daโ€™wah. Sebenarnya Abu Hurairah radhiyallahu anhu sudah pernah menjawab syubhat tersebut, dimana sebagian tabiโ€™in pernah bertanya kepada Abu Hurairah radhiyallahu anhu, mengapa beliau bisa meriwayatkan hadits-hadits yang begitu banyak, yang tidak diriwayatkan oleh orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar ?. Beliau radhiyallahu anhu mengatakan bahwa orang-orang Muhajirin waktu itu banyak yang disibukkan dengan perdagangannya dan orang-orang Anshar banyak disibukkan dengan tanahnya. Artinya orang-orang Muhajirin dan Anshar tidak mengkonsentrasikan diri mereka untuk mengambil ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, walaupun mereka tentu saja hadir dalam majelis-majelis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, namun frekuensi kehadiran mereka tidak sama dengan Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Adapun beliau Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengatakan bahwa beliau radhiyallahu anhu tidak pernah mempunyai kegiatan yang lain kecuali berada di masjid, beribadah dan menuntut ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Karenanya sangat wajar kalau beliau radhiyallahu anhu meriwayatkan hadits yang begitu banyak, yang tidak sempat diriwayatkan oleh shahabat-shahabat yang lebih dahulu masuk Islam, bahkan tidak diriwayatkan sebanyak itu oleh shahabat yang paling dekat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yaitu Abu Bakar radhiyallahu anhu. Dan para shahabat memang kadang ada yang tidak selalu hadir dalam majelis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, seperti kisah Umar radhiyallahu anhu, yang termasuk shahabat paling dekat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dimana beliau radhiyallahu anhu kadang tidak hadir dalam majelis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan beliau mempunyai tetangga yang mana keduanya Umar dan tetangganya bersepakat untuk bergantian hadir dalam majelis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sehingga kalau Umar yang hadir maka beliau mencatat atau mengingat baik-baik lalu menyampaikan kepada tetangganya, dan sebaliknya. Ini yang dikenal dalam istilah hadits โ€œ ร‡รกรŠรธรณรครณร‡รฆรถรˆรต รรถรญ ร‡รกรบรšรถรกรบรฃรถ โ€ saling bergantian dalam menuntut ilmu, dan ini pula yang diberikan bab oleh Imam Bukhari ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ dalam kitab Al-Ilmu-nya. Jadi ini menunjukkan bahwa sampai shahabat-shahabat yang terdekat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun tidak mengikuti semua majelis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Adapun Abu Hurairah radhiyallahu anhu tidak disibukkan dengan perdagangan dan tanahnya, hanya mengkonsentrasikan dirinya dalam masjid, di shuffahnya karena beliau termasuk ahlush shuffah, shahabat-shahabat yang tinggal di beranda masjid, dan menghadiri semua majelis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tanpa kecuali. Dan yang mendukung hal tersebut juga adalah karena beliau radhiyallahu anhu sangat kuat hafalannya, sebagaimana yang beliau katakan bahwa pada suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda รฃรณรครบ รญรณรˆรบร“รตร˜รบ ร‘รถรรณร‡รรณ รฅรต รรณรŠรธรณรฌ รƒรณรžรบร–รถรญรณ รฃรณรžรณร‡รกรณรœรŠรถรญ ร‹รตรฃรธรณ รญรณรžรบรˆรถร–รบรฅรต รรณรกรณรครบ รญรณรครบร“รณรฌ ร”รณรญรบร†ร‡ ร“รณรฃรถรšรณรฅรต รฃรถรครธรถรญ รรณรˆรณร“รณร˜รบรŠรต รˆรตร‘รบรรณร‰ รŸรณร‡รครณรŠรบ รšรณรกรณรญรธรณ รรณรฆรณร‡รกรธรณรถรญ รˆรณรšรณร‹รณรฅรต รˆรถร‡รกรบรรณรžรธรถ รฃรณร‡ รครณร“รถรญรŠรต ร”รณรญรบร†ร‡ ร“รณรฃรถรšรบรœรŠรตรฅรต รฃรถรครบรฅรต ร‘รฆร‡รฅ ร‡รกรˆรŽร‡ร‘รญ รฆ รฃร“รกรฃ โ€œSiapa yang mau membentangkan selendangnya hingga selesai pembicaraanku, kemudian ia meraihnya ke dirinya, maka ia takkan terlupa akan suatu apa pun dari apa yang telah didengarnya darikuโ€. Lalu aku Abu Hurairah membentangkan selendangku, maka demi Allah yang telah mengutus Rasulullah ๏ฒ dengan haq, saya tidak pernah lupa sesuatu pun yang saya dengarkan dari beliau ๏ฒโ€.HR. Bukhari dan Muslim Jadi wajar sekali kalau begitu banyak hadits yang beliau riwayatkan, karena selama tiga setengah tahun beliau tidak pernah absen dari majelis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan semua yang beliau dengarkan dihafalkannya. Bahkan beliau mengatakan โ€œSebenarnya saya tidak mau meriwayatkan semuanya karena saya merasa berat untuk itu, namun kalau tidak ada 2 ayat dalam Al Quran tentang ancaman menyembunyikan ilmu maka tentu saya tidak meriwayatkan hadits walaupun satuโ€. Kedua ayat tersebut adalah firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ ร…รถรครธรณ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รญรณรŸรบรŠรตรฃรตรฆรครณ รฃรณร‡ รƒรณรครบร’รณรกรบรครณร‡ รฃรถรครณ ร‡รกรบรˆรณรญรธรถรครณร‡รŠรถ รฆรณร‡รกรบรฅรตรรณรฌ รฃรถรครบ รˆรณรšรบรรถ รฃรณร‡ รˆรณรญรธรณรครธรณร‡รฅรต รกรถรกรครธรณร‡ร“รถ รรถรญ ร‡รกรบรŸรถรŠรณร‡รˆรถ รƒรตรฆรกรณร†รถรŸรณ รญรณรกรบรšรณรครตรฅรตรฃรต ร‡รกรกรฅรต รฆรณรญรณรกรบรšรณรครตรฅรตรฃรต ร‡รกรกร‡รธรณรšรถรครตรฆรครณ . ร…รถรกร‡รธรณ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รŠรณร‡รˆรตรฆร‡ รฆรณรƒรณร•รบรกรณรรตรฆร‡ รฆรณรˆรณรญรธรณรครตรฆร‡ รรณรƒรตรฆรกรณร†รถรŸรณ รƒรณรŠรตรฆรˆรต รšรณรกรณรญรบรฅรถรฃรบ รฆรณรƒรณรครณร‡ ร‡รกรŠรธรณรฆรธรณร‡รˆรต ร‡รกร‘รธรณรรถรญรฃรต ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 159 -160 โ€œSesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua makhluk yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan kebenaran, maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Aku-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayangโ€Al Baqarah 159 โ€“ 160 Jadi beliau adalah shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, lalu diikhtilafkan tentang berapa riwayatnya, namun Ibnul Jauzy ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ pernah menyebutkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan sebanyak 5374 hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan ini adalah jumlah yang sangat besar dibandingkan riwayat dari sahabat yang lain yang juga banyak meriwayatkan hadits. Dari tujuh shahabat yang banyak meriwayatkan hadits, yang paling dekat dengan beliau urutan kedua adalah Abdullah bin Umar yang hanya meriwayatkan sekitar 2630 hadits. Abu Hurairah radhiyallahu anhu memiliki banyak keutamaan. Sebagaimana layaknya para ahlush shuffah, beliau di samping berilmu, juga adalah orang yang zuhud dan banyak beribadah kepada Allah subhaanahu wa taโ€™ala, hingga kadang beliau tidak makan dan minum dalam beberapa hari. Sehingga, sebagaimana diriwayatkan oleh beberapa tabiโ€™in bahwa kadang beliau di atas mimbar tiba-tiba pingsan seperti orang gila, lalu ketika ditanyakan, ternyata beliau pingsan karena kelaparan dan haus karena tidak makan beberapa hari. Ini menunjukkan kezuhudan beliau, namun demikian beliau termasuk orang yang taโ€™affuf senantiasa menjaga kehormatannya sehingga beliau memelihara diri dari meminta-minta. Hal ini sebagaimana firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ รกรถรกรบรรตรžรณร‘รณร‡รรถ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รƒรตรรบร•รถร‘รตรฆร‡ รรถรญ ร“รณรˆรถรญรกรถ ร‡รกรกรฅรถ รกร‡รณ รญรณร“รบรŠรณร˜รถรญรšรตรฆรครณ ร–รณร‘รบรˆร‡ รรถรญ ร‡รบรกรƒรณร‘รบร–รถ รญรณรรบร“รณรˆรตรฅรตรฃรต ร‡รกรบรŒรณร‡รฅรถรกรต รƒรณร›รบรครถรญรณร‡รรณ รฃรถรครณ ร‡รกรŠรธรณรšรณรรธรตรรถ รŠรณรšรบร‘รถรรตรฅรตรฃรบ รˆรถร“รถรญรฃรณร‡รฅรตรฃรบ รกร‡รณ รญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณ ร‡รกรครธรณร‡ร“รณ ร…รถรกรบรรณร‡รร‡ รฆรณรฃรณร‡ รŠรตรครบรรถรžรตรฆร‡ รฃรถรครบ รŽรณรญรบร‘รฒ รรณร…รถรครธรณ ร‡รกรกรฅรณ รˆรถรฅรถ รšรณรกรถรญรฃรฑ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 273 โ€œBerinfaklah kepada orang-orang fakir yang terikat oleh jihad di jalan Allah; mereka tidak dapat berusaha di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan di jalan Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuiโ€.Al Baqarah 273 Beliau malu meminta walaupun beliau sangat butuh. Sehingga kadang metode yang beliau lakukan untuk menunjukkan bahwa beliau lapar dan mau dibantu, maka setelah mengikatkan batu di perutnya untuk menahan laparnya, kemudian beliau mendekati Abu Bakar radhiyallahu anhu untuk sengaja bertanya tentang masalah-masalah tafsir dan ad-dien, padahal sebenarnya beliau radhiyallahu anhu datang agar Abu Bakar radhiyallahu anhu memperhatikannya dan kemudian tahu bahwa dia lapar. Namun kata Abu Hurairah, kadang Abu Bakar radhiyallahu anhu cuma menjawab saja pertanyaannya namun tidak mengetahui bahwa dia lapar. Lalu beliau mendatangi Umar radhiyallahu anhu untuk sengaja bertanya. Namun Umar radhiyallahu anhu hanya sekedar menjawab dan tidak mengetahui bahwa sebenarnya beliau dalam keadaan lapar. Kemudian beliau radhiyallahu anhu menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bisa langsung menangkap apa yang diinginkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memanggilnya ke rumah beliau shallallahu alaihi wa sallam, dan pada hari itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendapati sebotol susu, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya dari mana susu tersebut, maka dikatakan bahwa itu hadiah. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikannya kepada Abu Hurairah dan memesankan supaya juga dibagi-bagikan kepada ahlush shuffah lainnya. Abu Hurairah mengatakan dalam hati bahwa susu sedikit dan saya sangat haus dan lapar, lalu disuruh lagi membagi-bagikannya ke ahlush shuffah ?. Namun ketika beliau radhiyallahu anhu datang kepada para ahlush shuffah kemudian membagi-bagi susu tersebut, ternyata susu itu tidak pernah habis. Dan ini merupakan salah satu muโ€™jizat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kisah ini menunjukkan bagaimana zuhudnya Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan sekaligus menunjukkan keutamaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam; yang mana beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang yang bisa menangkap dan mengetahui dengan baik keadaan para shahabatnya. Salah satu keutamaan Abu Hurairah yang perlu diangkat adalah beliau seorang yang dicintai oleh seluruh orang-orang muโ€™min. Dan hal ini beliau pernah katakan kepada seorang tabiโ€™in, yaitu Abu Katsir ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ , bahwa, โ€œTidaklah Allah menciptakan seorang muโ€™min kecuali dia pasti mencintaiku dan mencintai ibukuโ€. Lalu tabiโ€™in itu mengatakan, โ€œDari mana anda tahu?โ€, maka beliau mengatakan menyebutkan kisahnya โ€œSaya mempunyai seorang ibu yang musyrik dan saya mencintainya dan diapun sangat cinta kepada saya. Dan ketika saya masuk Islam, dia sangat marah dan mau mengusirku. Namun saya tetap bermuamalah dengan dia dengan muโ€™amalah yang sangat baik. Hingga pada suatu hari dia pernah mengatakan suatu perkataan yang tidak pantas tentang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yakni celaan. Dengan perasaan yang sangat sedih, saya menangis di depan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan berkata โ€œYa Rasulullah, doโ€™akan hidayah untuk ibu Abu Hurairahโ€. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam langsung mendoโ€™akan ibu Abu Hurairah untuk mendapatkan hidayah. Begitu mendengarkan doโ€™a Rasulullah, saya sangat gembira dan segera pulang untuk menyampaikan kabar gembira itu. Belum sampai di rumah, saya sudah mendengarkan suara gemericik air, seperti ada orang berwudhu di dalam rumah. Maka saya sangat kaget dan bertanya-tanya siapa yang berwudhu di dalam rumah.. Dan ketika saya masuk, saya mendapati ibuku telah selesai berwudhuโ€™ dan siap mengenakan khimarnya untuk shalat dan mengatakan, โ€œSaya sudah bersyahadatโ€. Maka saya pun kembali menangis sebagaimana tangisan yang pertama dan mengatakan, โ€œSaya sekarang menangis karena kegembiraan sebagaimana saya tadi menangis karena kesedihan sayaโ€. Lalu saya kembali menemui Rasulullah ๏ฒ untuk menyampaikan hal tersebut, lalu saya meminta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, โ€œYa Rasulullah, doโ€™akanlah supaya tidak ada seorang muโ€™min yang mendengarkan nama Abu Hurairah dan ibunya, kecuali pasti mencintainyaโ€. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdoโ€™a โ€œYa Allah, jadikanlah Abu Hurairah dan ibunya dicintai oleh hamba-hamba-Mu yang berimanโ€. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata โ€œMaka tidaklah seorang mukmin yang diciptakan yang mendengarkanku dan melihatku kecuali mencintaikuโ€.HR. Muslim Dari riwayat ini ada faidah yang sangat penting, bahwa siapa saja yang membenci Abu Hurairah maka paling tidak keimanannya dipertanyakan/diragukan. Dan ini bantahan terhadap orang-orang Syiโ€™ah yang membenci Abu Hurairah ๏ด dan bertaqarrub kepada Allah dengan membenci Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahkan meragukan hadits-hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Karena itu orang yang meragukan Abu Hurairah radhiyallahu anhu, maka minimal kita pun meragukan keimanannya. Orang-orang beriman begitu berterima kasih kepada Abu Hurairah radhiyallahu anhu karena beliau adalah shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits kepada mereka dan begitu banyak ilmu yang mereka dapatkan lewat riwayat dari beliau. Karenanya sangat wajar bila Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah sangat mencintai shahabat yang mulia ini. Adapun Ahlul Bidโ€™ah, termasuk Syiโ€™ah Rafidhah, membenci Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan sekaligus mengumumkan bahwa diri-diri mereka adalah minimal munafiq, dan pantas diragukan Hurairah radhiyallahu anhu juga pernah menjadi sebagai amir pemimpin di kota Madinah beberapa kali. Beliau meninggal di kota Madinah sebagian ulama mengatakan di Aqieq sekitar tahun 57 H ada yang mengatakan tahun 59 H pada akhir khilafah Muโ€™awiyah . Umur beliau waktu itu kurang lebih 78 tahun. Menjelang wafatnya, beliau radhiyallahu anhu menangis. Lalu orang-orang di sekitarnya bertanya mengapa beliau sampai menangis, apakah karena takut mati. Maka beliau radhiyallahu anhu berkata โ€œTidak, sesungguhnya saya menangis karena saya tahu akan menghadapi perjalanan yang sangat jauh namun perbekalan saya sangat sedikitโ€. Ini menunjukkan kezuhudan dan waraโ€™ beliau radhiyallahu anhu . Jika saja Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengatakan seperti ini, maka tentu kita lebih pantas takut dan kuatir dengan diri kita, karena jarak yang begitu jauhnya untuk kita bertemu dengan Allah ๏‰ namun begitu minimnya perbekalan kita. Kalau saja beliau yang banyak berilmu meriwayatkan hadits yang mana satu hadits saja yang beliau sebutkan lalu didengar oleh satu orang dan orang itu mengamalkan, maka beliau sudah mendapatkan andil, yaitu pahala dari pengamalan orang tersebut. Bagaimana lagi kalau sudah banyak sekali orang yang mendengarkan hadits dari beliau ๏ด dan mengamalkannya, tentu banyak sekali pahala yang beliau dapatkan. Jadi sebenarnya bila dihitung-hitung perbekalan pahala beliau sudah banyak, namun begitulah para shahabat, mereka mempunyai rasa takut yang sangat besar kepada Allah subhaanahu wa taโ€™ala. Hadits ini adalah hadits yang pertama kali diriwayatkan oleh Abu Hurairah ๏ด dalam Arbaโ€™in An-Nawawiyah. Setelah hadits ini akan banyak hadits beliau yang dimuat dalam Al Arbain An-Nawawiyah. Dan hampir semua kitab-kitab hadits, siapapun yang menulis, asalkan dia dari Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah, maka akan didapati riwayat yang paling banyak adalah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. SABABUL WURUD Hadits ini mempunyai sababul wurud, yaitu ketika diwajibkannya haji, Rasulullah ๏ฒ menyampaikan kepada para shahabatnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari riwayat Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah berkata รŽรณร˜รณรˆรณรครณร‡ ร‘รณร“รตรฆรกรต ร‡รกรกรฅรถ ร•รณรกรธรณรฌ ร‡รกรกรฅรต รšรณรกรณรญรบรฅรถ รฆรณร“รณรกรธรณรฃรณ รรณรžรณร‡รกรณ รƒรณรญรธรตรฅรณร‡ ร‡รกรครธรณร‡ร“รต รžรณรรบ รรณร‘รณร–รณ ร‡รกรกรฅรต รšรณรกรณรญรบรŸรตรฃรต ร‡รกรบรรณรŒรธรณ รรณรรตรŒรธรตรฆร‡ รรณรžรณร‡รกรณ ร‘รณรŒรตรกรฑ รƒรณรŸรตรกรธรณ รšรณร‡รฃรฒ รญรณร‡ ร‘รณร“รตรฆรกรณ ร‡รกรกรฅรถ ยฟ รรณร“รณรŸรณรŠรณ รรณรŠรธรณรฌ รžรณร‡รกรณรฅรณร‡ ร‹รณรกร‡รณร‹ร‡ ยก รรณรžรณร‡รกรณ ร‘รณร“รตรฆรกรต ร‡รกรกรฅรถ ร•รณรกรธรณรฌ ร‡รกรกรฅรต รšรณรกรณรญรบรฅรถ รฆรณร“รณรกรธรณรฃรณ รกรณรฆรบ รžรตรกรบรŠรต รครณรšรณรฃรบ รกรณรฆรณรŒรณรˆรณรŠรบ รฆรณรกรณรฃรณร‡ ร‡ร“รบรŠรณร˜รณรšรบรŠรตรฃรบ ร‹รตรฃรธรณ รžรณร‡รกรณ รณร‘รตรฆรครถรญ รฃรณร‡ รŠรณร‘รณรŸรบรŠรตรŸรตรฃรบ รรณร…รถรครธรณรฃรณร‡ รฅรณรกรณรŸรณ รฃรณรครบ รŸรณร‡รครณ รžรณรˆรบรกรณรŸรตรฃรบ รˆรถรŸรณร‹รบร‘รณร‰รถ ร“รตร„รณร‡รกรถรฅรถรฃรบ รฆรณร‡รŽรบรŠรถรกร‡รณรรถรฅรถรฃรบ รšรณรกรณรฌ รƒรณรครบรˆรถรญรณร‡ร†รถรฅรถรฃรบ รรณร…รถรณร‡ รƒรณรฃรณร‘รบรŠรตรŸรตรฃรบ รˆรถร”รณรญรบรรฒ รรณรƒรบรŠรตรฆร‡ รฃรถรครบรฅรต รฃรณร‡ ร‡ร“รบรŠรณร˜รณรšรบรŠรตรฃรบ รฆรณร…รถรณร‡ รครณรฅรณรญรบรŠรตรŸรตรฃรบ รšรณรครบ ร”รณรญรบรรฒ รรณรรณรšรตรฆรฅรต ร‘รฆร‡รฅ รฃร“รกรฃ โ€œRasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami, lalu bersabda โ€œWahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilahโ€. Maka seorang laki-laki bertanya โ€œApakah setiap tahun wahai Rasulullah ?โ€. Maka beliau diam, sampai laki-laki tadi bertanya 3 kali. Kemudian beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda โ€œKalau saya katakana ya, maka wajib bagimu setiap tahun dan kalian tidak akan mampuโ€. Di sini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sempat marah. Jadi sebelumnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diam, dan diamnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah untuk memberikan keringanan kepada shahabat. Lalu ada yang bertanya lagi apakah setiap tahun, maka ini adalah pertanyaan yang tidak bermanfaat, bahkan bisa menyulitkan diri sendiri. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan hadits ini โ€œBiarkanlah aku pada apa yang aku tinggalkan diamkan, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa disebabkan oleh banyaknya pertanyaan mereka dan penyimpangan mereka terhadap Nabi-Nabi mereka. Karena itu apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka kerjakanlah semampumu, dan apabila aku melarang sesuatu kepada kalian maka tinggalkanโ€. HR. MuslimOrang yang bertanya ini adalah seorang Arab Badui sehingga dimaklumi. Dalam beberapa riwayat terutama riwayat Ibnu Majah menjelaskan bahwa yang bertanya ini adalah seorang Arab Badui yang cukup terkenal, yaitu Al Aqraโ€™ bin Habis. Salah satu kisahnya yang terkenal adalah ketika beliau melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mencium cucunya Al Hasan bin Ali radhiyallahu anhu, maka Al Aqraโ€™ bin Habis berkata ร…รถรครธรณ รกรถรญ รšรณร”รณร‘รณร‰ รฃรถรครณ ร‡รกรบรฆรณรกรณรรถ รฃรณร‡ รžรณรˆรธรณรกรบรŠรต รฃรถรครบรฅรตรฃรบ รƒรณรรณรร‡ ยก รรณรครณร™รณร‘รณ ร…รถรกรณรญรบรฅรถ ร‘รณร“รตรฆรกรต ร‡รกรกรฅรถ ร•รณรกรธรณรฌ ร‡รกรกรฅรต รšรณรกรณรญรบรฅรถ รฆรณร“รณรกรธรณรฃรณ ร‹รตรฃรธรณ รžรณร‡รกรณ รฃรณรครบ รกร‡รณ รญรณร‘รบรรณรฃรต รกร‡รณ รญรตร‘รบรรณรฃรต ร‘รฆร‡รฅ ร‡รกรˆรŽร‡ร‘รญ รฆ รฃร“รกรฃ รšรค รƒรˆรญ รฅร‘รญร‘ร‰ โ€œSaya mempunyai 10 orang anak, namun tidak ada seorangpun yang pernah saya ciumโ€. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memandangnya kemudian bersabda โ€œSiapa yang tidak punya rahmat, tidak akan dirahmatiโ€.HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu Ini suatu hal yang aneh sebenarnya, karena fitrah manusia adalah menyenangi anak kecil, lalu shahabat ini tidak pernah mencium satupun anaknya. Shahabat Badui ini cukup banyak riwayat atau kisah-kisahnya, salah satunya adalah yang berkaitan dengan hadits ini, yang mana beliau bertanya kepada Rasulullah ๏ฒ tentang kewajiban haji apakah diwajibkan setiap tahun, dan merupakan salah satu bentuk pertanyaan yang tidak dibolehkan. Bahkan hadits ini juga merupakan sababul nuzul sebab turunnya ayat ๏€ฉ รญรณร‡รƒรณรญรธรตรฅรณร‡ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รรณร‡รฃรณรครตรฆร‡ รกร‡รณ รŠรณร“รบรƒรณรกรตรฆร‡ รšรณรครบ รƒรณร”รบรญรณร‡รรณ ร…รถรครบ รŠรตรˆรบรรณ รกรณรŸรตรฃรบ รŠรณร“รตร„รบรŸรตรฃรบ รฆรณร…รถรครบ รŠรณร“รบรƒรณรกรตรฆร‡ รšรณรครบรฅรณร‡ รรถรญรครณ รญรตรครณร’รธรณรกรต ร‡รกรบรžรตร‘รบรรณร‡รครต รŠรตรˆรบรรณ รกรณรŸรตรฃรบ รšรณรรณร‡ ร‡รกรกรฅรต รšรณรครบรฅรณร‡ รฆรณร‡รกรกรฅรต ร›รณรรตรฆร‘รฑ รรณรกรถรญรฃรฑ ๏€จ ร‡รกรฃร‡ร†รร‰ 101 โ€œHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan kepada Nabimu hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qurโ€™an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah mema`afkan kamu tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantunโ€.Al Maidah 101 Jadi apa-apa yang Allah subhaanahu wa taโ€™ala dan Rasul-Nya diamkan maka diamkanlah, karena apa Allah subhaanahu wa taโ€™ala dan Rasul-Nya diamkan bukanlah berarti bahwa Allah subhaanahu wa taโ€™ala dan Rasul-Nya lupa akan hal tersebut, tetapi karena hikmah dan rahmat dari Allah subhaanahu wa taโ€™ala kepada orang-orang beriman. Dan perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa โ€œSeandainya saya mengatakan ya, wajib bagi kalian tiap tahun dan kalian tidak akan mampuโ€, maka dari sini ulama ushul mengambil faidah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah mujtahid dan berhak menetapkan hukum sendiri.โ€.Dari sababul wurud ini juga terdapat khilaf di antara ulama-ulama kita terutama ulama-ulama ushul bahwa apakah setiap perintah itu menunjukkan mestinya dilakukan secara berulang atau tidak. Seperti misalnya firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ รญรณร‡รˆรตรครณรญรธรณ รƒรณรžรถรฃรถ ร‡รกร•รธรณรกร‡รณร‰รณ รฆรณรƒรบรฃรตร‘รบ รˆรถร‡รกรบรฃรณรšรบร‘รตรฆรรถ รฆรณร‡รครบรฅรณ รšรณรครถ ร‡รกรบรฃรตรครบรŸรณร‘รถ รฆรณร‡ร•รบรˆรถร‘รบ รšรณรกรณรฌ รฃรณร‡ รƒรณร•รณร‡รˆรณรŸรณ ร…รถรครธรณ รณรกรถรŸรณ รฃรถรครบ รšรณร’รบรฃรถ ร‡รบรกรƒรตรฃรตรฆร‘รถ ๏€จ รกรžรฃร‡รค17 โ€œHai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allahโ€.Luqman 17Perintah โ€œ รƒรžรฃ ร‡รกร•รกร‡ร‰ โ€dirikanlah shalat disini apakah merupakan perintah yang cukup dikerjakan satu kali saja atau mesti berulang-ulang ?. Demikian juga perintah โ€œ รฆรƒรฃร‘ รˆร‡รกรฃรšร‘รฆร รฆร‡รครฅ รšรค ร‡รกรฃรครŸร‘ โ€, apakah beramar maโ€™ruf nahi mungkar cukup satu kali saja atau mesti berulang-ulang. Atau misalnya firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ ร…รถรครธรณ ร‡รกรกรฅรณ รฆรณรฃรณรกร‡รณร†รถรŸรณรŠรณรฅรต รญรตร•รณรกรธรตรฆรครณ รšรณรกรณรฌ ร‡รกรครธรณรˆรถรญรธรถ รญรณร‡รƒรณรญรธรตรฅรณร‡ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รรณร‡รฃรณรครตรฆร‡ ร•รณรกรธรตรฆร‡ รšรณรกรณรญรบรฅรถ รฆรณร“รณรกรธรถรฃรตรฆร‡ รŠรณร“รบรกรถรญรฃร‡ ๏€จ ร‡รกรƒรร’ร‡รˆ 56 โ€œSesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanyaโ€.Al Ahzab 56Perintah bershalawat di sini, apakah bershalawat cukup satu kali agar kita sudah terlepas dari dosa, ataukah mesti diulang berkali-kali ?. Ini adalah hal yang diikhtilafkan oleh ulama kita, dan kebanyakan ulama kita mengatakan bahwa โ€œSatu kali perintah tidak berarti cuma satu kali dikerjakanโ€. Tapi dari riwayat ini juga bisa dipahami bahwa perintah yang satu kali juga menghendaki amalan yang satu kali saja, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika menyebutkan kewajiban haji kemudian beliau diam, dan ketika shahabat bertanya apakah setiap tahun maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam langsung marah. Artinya kalau satu kali saja Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan perintah tersebut maka berarti satu kali saja diperintahkan. Namun boleh dikatakan bahwa kebanyakan perintah yang satu kali itu dilakukan berkali-kali. Jadi, asalnya perintah itu dilakukan berkali-kali, kalaupun ada yang satu kali, maka ada penjelasan khusus tentang hal tersebut, sebagaimana dalam hadits haji ini, diperintahkan cuma satu kali saja. Masalah lain yang berkaitan dengan masalah perintah ini adalah apakah setiap perintah itu mesti langsung dikerjakan begitu didengarkan atau yang penting dikerjakan walaupun terlambat. Contohnya haji, seorang yang sudah mampu untuk haji apakah dibolehkan menunda misalnya tahun depan. Ini diikhtilafkan oleh para ulama, namun yang rajih -Insya Allah โ€“ adalah bahwa seseorang harus langsung melakukan suatu perintah begitu ia sanggup. Karena kalau dia menunda-nunda lalu dia nanti tidak bisa mengamalkannya, maka dia mendapatkan dosa. Allah berfirman subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ โ€ฆ รรณร‡ร“รบรŠรณรˆรถรžรตรฆร‡ ร‡รกรบรŽรณรญรบร‘รณร‡รŠรถ ร…รถรกรณรฌ ร‡รกรกรฅรถ รฃรณร‘รบรŒรถรšรตรŸรตรฃรบ รŒรณรฃรถรญรšร‡ รรณรญรตรครณรˆรธรถร†รตรŸรตรฃรบ รˆรถรฃรณร‡ รŸรตรครบรŠรตรฃรบ รรถรญรฅรถ รŠรณรŽรบรŠรณรกรถรรตรฆรครณ ๏€จ ร‡รกรฃร‡ร†รร‰ 48 โ€œโ€ฆ Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan ituโ€Al Maidah 48โ€œBersegeralah dalam melakukan kebaikanโ€, Artinya jangan ditunda-tunda. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri menyuruh kita untuk memanfaatkan kesempatan, sebagaimana dalam hadits รšรณรครถ รˆรบรครถ รšรณรˆรธรณร‡ร“รฒ ร‘รณร–รถรญรณ ร‡รกรกรฅรต รšรณรครบรฅรตรฃรณร‡ รžรณร‡รกรณ รžรณร‡รกรณ ร‘รณร“รตรฆรบรกรต ร‡รกรกรฅรถ ร•รณรกรธรณรฌ ร‡รกรกรฅรต รšรณรกรณรญรบรฅรถ รฆรณร“รณรกรธรณรฃรณ รกรถร‘รณรŒรตรกรฒ รฆรณรฅรตรฆรณ รญรณรšรถร™รตรฅรต ร‡รถร›รบรŠรณรครถรฃรบ รŽรณรฃรบร“ร‡ รžรณรˆรบรกรณ รŽรณรฃรบร“รฒ ร”รณรˆรณร‡รˆรณรŸรณ รžรณรˆรกรณ รฅรณร‘รณรฃรถรŸรณ รฆรณร•รถรรธรณรŠรณรŸรณ รžรณรˆรกรณ ร“รณรžรณรฃรถรŸรณ รฆรณร›รถรครณร‡รŸรณ รžรณรˆรกรณ รรณรžร‘รถรŸรณ รฆรณรรณร‘รณร‡ร›รณรŸรณ รžรณรˆรกรณ ร”รตร›รตรกรถรŸรณ รฆรณรรณรญรณร‡รŠรถรŸรณ รžรˆรก รฃรฆรŠรŸ โ€œDari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada seorang laki-laki dan beliau bernasihat kepadanya โ€Manfaatkanlah lima hal sebelum datangnya lima halmasa mudamu sebelum datang masa tuamu, kesehatanmu sebelum datang sakitmu, kekayaanmu sebelum datang kemiskinanmu, waktu kosongmu sebelum datang kesibukanmu dan masa hidupmu sebelum datang kematianmuโ€HR Hakim & Baihaqy di Syuโ€™abul Iman. Dan Ibnu Umar ร‘ร–รญ ร‡รกรกรฅ รšรครฅรฃร‡ mengatakan ร…รถรณร‡ รƒรณรฃรบร“รณรญรบรŠรณ รรณรกร‡รณ รŠรณรครบรŠรณร™รถร‘รถ ร‡รกร•รธรณรˆรณร‡รรณ รฆรณร…รถรณร‡ รƒรณร•รบรˆรณรรบรŠรณ รรณรกร‡รณ รŠรณรครบรŠรณร™รถร‘รถ ร‡รกรบรฃรณร“รณร‡รรณ โ€ฆ ร‘รฆร‡รฅ ร‡รกรˆรŽร‡ร‘รญ โ€œJika engkau berada di waktu sore maka janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau berada di waktu pagi maka janganlah menunggu soreโ€.Diriwayatkan oleh Imam BukhariArtinya apabila ada pekerjaan yang dapat dikerjakan sekarang maka kerjakanlah, jangan ditunda-tunda, karena boleh jadi kamu tidak dapat lagi mengerjakan apa yang ingin kamu lakukan saat sababul wurud dari hadits ini maka dapat dipahami makna hadits ini, sebagaimana sababun nuzul manfaatnya adalah agar kita dapat memahami ayat dengan baik. Dan bukan berarti bahwa hukum itu hanya berlaku kepada siapa dia diturunkan, karena qaidah menyebutkan ร‡รกรบรšรถรˆรบร‘รณร‰รต รˆรถรšรตรฃรตรฆรฃรถ ร‡รกรกรธรณรรบร™รถ รกร‡รณ รˆรถรŽรตร•รตรฆรบร•รถ ร‡รกร“รธรณรˆรณรˆรถ โ€œAl Ibroh pelajaran terletak pada keumuman lafazh bukan pada kehususan sebabโ€œContohnya Allah subhaanahu wa taโ€™ala menurunkan celaan kepada orang Yahudi, maka itu juga berlaku kepada siapa saja yang berbuat sebagaimana perbuatan mereka Yahudi, seperti firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ รƒรณรŠรณรƒรบรฃรตร‘รตรฆรครณ ร‡รกรครธรณร‡ร“รณ รˆรถร‡รกรบรˆรถร‘รธรถ รฆรณรŠรณรครบร“รณรฆรบรครณ รƒรณรครบรรตร“รณรŸรตรฃรบ รฆรณรƒรณรครบรŠรตรฃรบ รŠรณรŠรบรกรตรฆรครณ ร‡รกรบรŸรถรŠรณร‡รˆรณ รƒรณรรณรกร‡รณ รŠรณรšรบรžรถรกรตรฆรครณ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 44 โ€œMengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedang kamu melupakan diri kewajiban mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab Taurat? Maka tidakkah kamu berpikir?โ€Al Baqarah 44 Kalau ada yang menasehati dengan ayat ini, maka jangan dikatakan bahwa ayat itu ditujukan hanya kepada orang Yahudi. Memang ayat ini pertama kali diturunkan kepada Yahudi, namun ia berlaku secara umum, sehingga siapa yang berlaku dengan kelakuan seperti itu berarti dia telah melakukan kesalahan, dan sebagaimana Allah subhaanahu wa taโ€™ala mencela orang Yahudi maka Allah juga mencela orang tersebut. Jadi sababul wurud dan sababun nuzul cuma membantu dalam memahami hadits dan ayat, dan bukan untuk menunjukkan bahwa hukum itu khusus berlaku kepada siapa ia diturunkan pertama kali saja. SYARH HADITS ร“รณรฃรถรšรบรŠรต ร‘รณร“รตรฆรกรณ ร‡รกรกรฅรถ ร•รณรกรธรณรฌ ร‡รกรกรฅรต รšรณรกรณรญรบรฅรถ รฆรณ ร“รณรกรธรณรฃรณ รญรณรžรตรฆรบรกรต โ€ฆ ๏€ฏ Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengatakan โ€œSaya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda โ€. Telah disebutkan terdahulu bahwa bentuk periwayatan seperti ini bentuk samaโ€™/mendengar merupakan salah satu bentuk periwayatan yang paling kuat. รฃรณร‡ รครณรฅรณรญรบรœรŠรตรŸรตรฃรบ รšรณรครบรฅรต รรณร‡รŒรบรœรŠรณรครถรˆรตรฆรบรฅรต รฆรณรฃรณร‡ รƒรณรฃรณร‘รบ รŠรตรŸรตรฃรบ รˆรถรฅรถ รรณรƒรบรŠรœรตรฆรบร‡ รฃรถรครบรฅรต รฃรณร‡ร‡ร“รบรœรŠรณร˜รณรšรบรœรŠรตรฃรบ โ€ฆ ๏€ฏ โ€œApa-apa yang telah aku larang untukmu, maka jauhilah dan apa-apa yang telah aku perintahkan kepadamu, maka kerjakanlah sekemampuanmuโ€. Hadits ini semakna dengan firman Allah ๏‰ dalam surah Al Hasyr 7, ๏€ฉ โ€ฆ รฆรณรฃรณร‡ รรณร‡รŠรณร‡รŸรตรฃรต ร‡รกร‘รธรณร“รตรฆรกรต รรณรŽรตรตรฆรฅรต รฆรณรฃรณร‡ รครณรฅรณร‡รŸรตรฃรบ รšรณรครบรฅรต รรณร‡รครบรŠรณรฅรตรฆร‡ โ€ฆ ๏€จ ร‡รกรร”ร‘ 7 โ€œApa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlahโ€.Al Hasyr 7Walaupun ayat ini tidak mengatakan โ€œAmbillah sekemampuanmuโ€, namun keumumannya dikhususkan dengan hadits ini, atau dapat dikatakan ia diikat oleh dalil Al Quran yang lain ๏€ฉ รรณร‡รŠรธรณรžรตรฆร‡ ร‡รกรกรฅรณ รฃรณร‡ ร‡ร“รบรŠรณร˜รณรšรบรŠรตรฃรบ รฆรณร‡ร“รบรฃรณรšรตรฆร‡ รฆรณรƒรณร˜รถรญรšรตรฆร‡ รฆรณรƒรณรครบรรถรžรตรฆร‡ รŽรณรญรบร‘ร‡ รกรถรƒรณรครบรรตร“รถรŸรตรฃรบ โ€ฆ ๏€จ ร‡รกรŠร›ร‡รˆรค 16 โ€œMaka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimuโ€.At Taghabun 16โ€œ รฃร‡ โ€ di sini menunjukkan sesuatu yang umum, artinya โ€œApa-apa saja yang aku larang maka tinggalkanlah, dan apa-apa saja yang aku perintahkan maka kerjakanlah sekemampuanmuโ€. Di sini ada dua lafazh yang berbeda, kalau dalam masalah larangan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa apa yang dilarang tinggalkanlah secara mutlak dan tidak dikatakan โ€œtinggalkanlah sekemampuanmuโ€. Adapun dalam masalah perintah dikatakan kerjakanlah sekemampuanmu. Di sini terdapat khilaf para ulama, mana yang lebih berat perintah atau larangan. Namun yang shahih adalah lebih berat perintah. Karena untuk masalah perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, โ€œKerjakanlah sekemampuanmuโ€, berarti ada perintah yang kita tidak mampu mengerjakannya. Sedangkan untuk masalah larangan semuanya ditinggalkan secara mutlak. Jadi secara dalil, bahwasanya perintah itu lebih berat dari larangan. Secara akal, perintah memang lebih berat, karena banyak yang perlu dikerjakan sebelum melaksanakannya, dan memerlukan tenaga atau dana. Adapun larangan tidak memerlukannya sama sekali. Misalnya tentang larangan berzina, maka kita tidak mesti mengorbankan sesuatu untuk meninggalkannya, kita bisa tinggal saja di rumah menahan diri maka kita sudah meninggalkan larangan tersebut. Adapun perintah shalat berjamaโ€™ah misalnya, maka kita harus meninggalkan rumah, berjalan, dan sebagainya, sehingga kita membutuhkan tenaga untuk mengerjakannya. Bahkan orang yang melakukan larangan, sebenarnya melelahkan dirinya. Berapa banyak orang yang rela melelah-lelahkan dirinya untuk melakukan sebuah larangan, padahal seandainya ia meninggalkan larangan itu akan lebih mudah baginya. Namun demikianlah ketika syaithan sudah memperindah suatu amalan maksiat, maka sampai-sampai seseorang rela berkorban untuk melakukannya. Allah subhaanahu wa taโ€™ala berfirman ๏€ฉ โ€ฆ รรณรฃรณร‡ รƒรณร•รบรˆรณร‘รณรฅรตรฃรบ รšรณรกรณรฌ ร‡รกรœรครธรณร‡ร‘รถ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 175 โ€œMaka alangkah sabarnya mereka menentang api neraka!โ€. Al Baqarah 175Dan inilah sebabnya kenapa Allah subhaanahu wa taโ€™ala senantiasa mengatakan โ€œรฃร‡ ร‡ ร“รŠร˜รšรŠรฃโ€ untuk masalah perintah. Adapun larangan, kita wajib meninggalkannya secara mutlak, kecuali darurat. รฃรณร‡ รครณรฅรณรญรบรœรŠรตรŸรตรฃรบ รšรณรครบรฅรต รรณร‡รŒรบรœรŠรณรครถรˆรตรฆรบรฅรต โ€ฆ ๏€ฏ โ€œApa-apa yang telah aku larang untukmu, maka jauhilahโ€. Larangan yang ada dalam dalil-dalil Al Quran dan As Sunnah ada dua macam, yaitu 1. Larangan yang sifatnya haram, dan ini adalah asal dari larangan kaidah โ€œร‡รกรครฅรญ รญรžรŠร–รญ ร‡รกรŠรร‘รญรฃโ€hukum asal dari larangan adalah haram sampai ada dalil yang menjelaskan bahwa ia tidak haram. Misalnya berzina, mencuri, riba, dan lain-lain. Adapun defenisi haram menurut ulama ushul, adalah รฃรณร‡ รญรตรšรณร‡รžรณรˆรต รšรณรกรณรฌ รรถรšรบรกรถรฅรถ รฆรณ รญรตร‹รณร‡รˆรต รšรกรณรฌ รŠรณร‘รŸรตรฅรต ร‡ รฃรบรŠรถร‹รณร‡รกร‡โ€œApa-apa yang ketika dikerjakan mendapatkan dosahukuman dan ketika ditinggalkan karena syariโ€™at Allah dan Rasul-Nya mendapatkan pahalaโ€Jika ditinggalkan bukan karena alasan syariโ€™at maka tidak mendapatkan pahala. Misalnya seorang yang tidak melakukan zina karena tidak ada kesempatan, maka tidak mendapatkan pahala. Tapi orang yang meninggalkan zina karena Allah dan Rasul-Nya, maka ia mendapat pahala. Sama halnya hadits mengenai orang yang berkelahi, yang membunuh dan dibunuh sama-sama masuk neraka; yang dibunuh juga masuk neraka karena sebenarnya ia telah punya niat untuk membunuh, hanya karena lebih dulu terbunuh maka ia tidak sempat lagi membunuh. 2. Larangan yang sifatnya makruh.. Ulama ushul yang belakangan mendefinisikan makruh sebagai รฃรณร‡ รญรตร‹รณร‡รˆรต รšรณรกรณรฌรŠรณร‘รŸรถรฅรถ ร‡รฃรบรŠรถร‹ร‡รกร‡ รฆรณรกร‡รณ รญรตรšรณร‡รžรณรˆรต รšรกรฌ รรถรšรบรœรกรถรฅรถโ€œApa-apa yang ketika ditinggalkan karena Allah dan RasulNya maka mendapatkan pahala, dan ketika dikerjakan tidak mengapa tidak dihukumโ€Namun sebenarnya kata-kata makruh dalam Al Quran maupun As Sunnah kadang digunakan dengan makna haram. Dan ulama-ulama salaf kadang bila mengatakan โ€œitu makruhโ€ maksudnya adalah haram. Contoh penggunaan kata makruh dalam Al Quran sebagaimana firman Allah ๏‰ ๏€ฉ รŸรตรกรธรต รณรกรถรŸรณ รŸรณร‡รครณ ร“รณรญรธรถร†รตรฅรต รšรถรครบรรณ ร‘รณรˆรธรถรŸรณ รฃรณรŸรบร‘รตรฆรฅร‡ ๏€จ ร‡รกร…ร“ร‘ร‡ร 38 โ€œSemua itu kejahatannya amat dibenci makruh di sisi Tuhanmuโ€.Al Israโ€™ 38Makruh di ayat ini berarti haram. Yang menunjukkan hal tersebut karena larangan-larangan yang ada pada ayat-ayat sebelumnya adalah larangan yang sifatnya haram. Seperti pada ayat 23 adalah larangan membentak kedua orang tua ๏€ฉ รฆรณรžรณร–รณรฌ ร‘รณรˆรธรตรŸรณ รƒรณรกร‡รธรณ รŠรณรšรบรˆรตรรตรฆร‡ ร…รถรกร‡รธรณ ร…รถรญรธรณร‡รฅรต รฆรณรˆรถร‡รกรบรฆรณร‡รกรถรรณรญรบรครถ ร…รถรรบร“รณร‡รคร‡ ร…รถรฃรธรณร‡ รญรณรˆรบรกรตร›รณรครธรณ รšรถรครบรรณรŸรณ ร‡รกรบรŸรถรˆรณร‘รณ รƒรณรรณรรตรฅรตรฃรณร‡ รƒรณรฆรบ รŸรถรกร‡รณรฅรตรฃรณร‡ รรณรกร‡รณ รŠรณรžรตรกรบ รกรณรฅรตรฃรณร‡ รƒรตรรธรฒ รฆรณรกร‡รณ รŠรณรครบรฅรณร‘รบรฅรตรฃรณร‡ รฆรณรžรตรกรบ รกรณรฅรตรฃรณร‡ รžรณรฆรบรกร‡ รŸรณร‘รถรญรบรฃร‡ ๏€จ ร‡รกร…ร“ร‘ร‡ร 23 โ€œDan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan โ€œahโ€ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang muliaโ€.Al Israโ€™ 23Ini adalah larangan yang sifatnya haram. Lalu pada ayat 26 adalah larangan mubadzdzir, dan mubadzdzir adalah haram, bukan cuma makruh ๏€ฉ รฆรณรรณร‡รŠรถ รณร‡ ร‡รกรบรžรตร‘รบรˆรณรฌ รรณรžรธรณรฅรต รฆรณร‡รกรบรฃรถร“รบรŸรถรญรครณ รฆรณร‡รˆรบรครณ ร‡รกร“รธรณรˆรถรญรกรถ รฆรณรกร‡รณ รŠรตรˆรณรธรถร‘รบ รŠรณรˆรบรถรญร‘ร‡ ๏€จ ร‡รกร…ร“ร‘ร‡ร 26 โ€œDan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara borosโ€.Al Israโ€™ 26Pada ayat 31 adalah larangan membunuh anak-anak karena takut miskin ๏€ฉ รฆรณรกร‡รณ รŠรณรžรบรŠรตรกรตรฆร‡ รƒรณรฆรบรกร‡รณรรณรŸรตรฃรบ รŽรณร”รบรญรณร‰รณ ร…รถรฃรบรกร‡รณรžรฒ รครณรรบรครต รครณร‘รบร’รตรžรตรฅรตรฃรบ รฆรณร…รถรญรธรณร‡รŸรตรฃรบ ร…รถรครธรณ รžรณรŠรบรกรณรฅรตรฃรบ รŸรณร‡รครณ รŽรถร˜รบร†ร‡ รŸรณรˆรถรญร‘ร‡ ๏€จ ร‡รกร…ร“ร‘ร‡ร 31 โ€œDan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besarโ€.Al Israโ€™ 31Pada ayat 32 adalah larangan mendekati zina ๏€ฉ รฆรณรกร‡รณ รŠรณรžรบร‘รณรˆรตรฆร‡ ร‡รกร’รธรถรครณร‡ ร…รถรครธรณรฅรต รŸรณร‡รครณ รรณร‡รรถร”รณร‰ รฆรณร“รณร‡รรณ ร“รณรˆรถรญรกร‡ ๏€จ ร‡รกร…ร“ร‘ร‡ร 32 โ€œDan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang burukโ€.Al Israโ€™ 32Pada ayat 33 adalah larangan membunuh jiwa yang Allah haramkan membunuhnya ๏€ฉ รฆรณรกร‡รณ รŠรณรžรบรŠรตรกรตรฆร‡ ร‡รกรœรครธรณรรบร“รณ ร‡รกรธรณรœรŠรถรญ รรณร‘รธรณรฃรณ ร‡รกรกรฅรต ร…รถรกร‡รธรณ รˆรถร‡รกรบรรณรžรธรถ โ€ฆ ๏€จ 33 โ€œDan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya, melainkan dengan suatu alasan yang benarโ€ฆโ€.Al Israโ€™ 33Larangan memakan harta anak yatim di ayat 34 ๏€ฉ รฆรณรกร‡รณ รŠรณรžรบร‘รณรˆรตรฆร‡ รฃรณร‡รกรณ ร‡รกรบรญรณรŠรถรญรฃรถ ร…รถรกร‡รธรณ รˆรถร‡รกรธรณรŠรถรญ รฅรถรญรณ รƒรณรรบร“รณรครต รรณรŠรธรณรฌ รญรณรˆรบรกรตร›รณ รƒรณร”รตรรธรณรฅรต รฆรณรƒรณรฆรบรรตรฆร‡ รˆรถร‡รกรบรšรณรฅรบรรถ ร…รถรครธรณ ร‡รกรบรšรณรฅรบรรณ รŸรณร‡รครณ รฃรณร“รบร†รตรฆรกร‡ ๏€จ ร‡รกร…ร“ร‘ร‡ร 34 โ€œDan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik bermanfa`at sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnyaโ€.Al Israโ€™ 34Larangan berlaku curang dalam timbangan di ayat 35 ๏€ฉ รฆรณรƒรณรฆรบรรตรฆร‡ ร‡รกรบรŸรณรญรบรกรณ ร…รถรณร‡ รŸรถรกรบรŠรตรฃรบ รฆรณร’รถรครตรฆร‡ รˆรถร‡รกรบรžรถร“รบร˜รณร‡ร“รถ ร‡รกรบรฃรตร“รบรŠรณรžรถรญรฃรถ รณรกรถรŸรณ รŽรณรญรบร‘รฑ รฆรณรƒรณรรบร“รณรครต รŠรณรƒรบรฆรถรญรกร‡ ๏€จ ร‡รกร…ร“ร‘ร‡ร 35 โ€œDan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnyaโ€.Al Israโ€™ 35Larangan taqlid di ayat 36 ๏€ฉ รฆรณรกร‡รณ รŠรณรžรบรรต รฃรณร‡ รกรณรญรบร“รณ รกรณรŸรณ รˆรถรฅรถ รšรถรกรบรฃรฑ ร…รถรครธรณ ร‡รกร“รธรณรฃรบรšรณ รฆรณร‡รกรบรˆรณร•รณร‘รณ รฆรณร‡รกรบรรตร„รณร‡รรณ รŸรตรกรธรต รƒรตรฆรกรณร†รถรŸรณ รŸรณร‡รครณ รšรณรครบรฅรต รฃรณร“รบร†รตรฆรกร‡ ๏€จ ร‡รกร…ร“ร‘ร‡ร 36 โ€œDan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnyaโ€.Al Israโ€™ 36Larangan sombong di ayat 37 ๏€ฉ รฆรณรกร‡รณ รŠรณรฃรบร”รถ รรถรญ ร‡รบรกรƒรณร‘รบร–รถ รฃรณร‘รณรร‡ ร…รถรครธรณรŸรณ รกรณรครบ รŠรณรŽรบร‘รถรžรณ ร‡รบรกรƒรณร‘รบร–รณ รฆรณรกรณรครบ รŠรณรˆรบรกรตร›รณ ร‡รกรบรŒรถรˆรณร‡รกรณ ร˜รตรฆรกร‡ ๏€จ ร‡รกร…ร“ร‘ร‡ร 37 โ€œDan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunungโ€.Al Israโ€™ 37Kemudian ditutup dengan firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ รŸรตรกรธรต รณรกรถรŸรณ รŸรณร‡รครณ ร“รณรญรธรถร†รตรฅรต รšรถรครบรรณ ร‘รณรˆรธรถรŸรณ รฃรณรŸรบร‘รตรฆรฅร‡ ๏€จ ร‡รกร…ร“ร‘ร‡ร 38 โ€œSemua itu kejahatannya amat dibenci makruh di sisi Tuhanmuโ€œ.Al Israโ€™ 38 Makna makruh di sini adalah haram. Jadi makruh dalam istilah Al Quran kadang datang dengan makna haram. Dalam sunnah juga demikian, terkadang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyatakan makruh, namun maknanya haram. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam รฆรณรŸรณร‘รถรฅรณ รกรณรŸรตรฃรบ รžรถรญรกรณ รฆรณรžรณร‡รกรณ รฆรณรŸรณร‹รบร‘รณร‰รณ ร‡รกร“รธรตร„รณร‡รกรถ รฆรณร…รถร–รณร‡รšรณร‰รณ ร‡รกรบรฃรณร‡รกรถ ร‘รฆร‡รฅ ร‡รกรˆรŽร‡ร‘รญ รฆ รฃร“รกรฃ โ€œโ€ฆDan dimakruhkan kepadamu Qiila wa Qaala dan banyak bertanya dan membuang-buang hartaโ€. HR. Bukhari dan MuslimIni semua adalah larangan-larangan yang sifatnya haram, namun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memakai kata-kata makruh. Demikian juga ulama salaf, ketika menyebutkan istilah makruh kadang yang mereka maksudkan haram. Sehingga ulama ushul membuat jalan keluar dengan mengatakan bahwa makruh itu ada dua jenis 1 Makruh littahriim, artinya lafazh yang mengatakan makruh namun maksudnya haram. Contohnya hadits di atas yakni memperbanyak perkataan dan membuang Makruh littanzih, artinya makruh yang bermakna sebaiknya ditinggalkan, dan kalau dikerjakan tidak mengapa. Contohnya sebagaimana yang dicontohkan ulama kita yaitu larangan Rasulullah ๏ฒ untuk tidur sebelum shalat Isya dan untuk berbicara ngobrol sesudah shalat Isya. Larangan ini jelas, namun para ulama mengatakan bahwa sifatnya makruh, dimana larangan untuk tidur sebelum shalat Isya karena dikhawatirkan ia tertidur terbangun setelah shubuh dan belum sempat shalat Isya. Demikian pula dilarang untuk bercakap-cakap sesudah shalat โ€™Isyaร‡รกร“รธรฃร‘ agar tidak melambatkan bangun shalat shubuh. Contoh yang lain adalah larangan makan bawang mentah sebelum masuk masjid. Inipun jelas larangannya, namun kata para ulama larangannya bersifat makruh dan tidak sampai ketika kita membaca perkataan ulama-ulama kita yang mengatakan makruh, maka kita sebenarnya perlu meneliti maksudnya, apakah littahriim atau littanzih. Namun seorang muslim hendaknya menghindarkan diri dari hal-hal yang makruh sekemampuannya. Dan siapa yang memperbanyak mengerjakan yang makruh, maka dikhawatirkan akan terjatuh pada hal yang diharamkan, sebagaimana telah dibahas dalam hadits ke-6 dari Al Arbaโ€™in An Nawawiyah, Rasulullah ๏ฒ bersabda รฆรณ รฃรณรครบ รฆรณรžรณรšรณ รรญรถ ร‡รกร”รธรตรˆรตรฅรณร‡รŠรถ รฆรณรžรณรšรณ รรญรถ ร‡รกรบรรณร‘รณร‡รฃรถ โ€ฆ ร‘รฆร‡รฅ ร‡รกรˆรŽร‡ร‘รญ รฆ รฃร“รกรฃ โ€œSiapa yang terjatuh kepada perkara dalam syubhat maka ia akan terjatuh ke dalam perkara haramโ€ฆโ€. HR. Bukhari dan MuslimDimana salah satu tafsiran syubhat adalah perkara makruh. Sehingga kalau yang makruh saja sudah dianggap biasa maka suatu waktu juga akan menyerempet kepada yang haram. Karenanya seorang muslim hendaknya menjauhi hal yang makruh sekemampuannya untuk menambah derajatnya di sisi Allah ๏‰, sebagaimana seorang muslim mengerjakan perintah-perintah yang sunnah untuk mengangkat derajatnya di sisi Allah subhaanahu wa taโ€™ala. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah melakukan yang haram maupun yang makruh. Demikian pula para shahabat radhiyallahu anhu, hampir dapat dikatakan bahwa kebanyakan shahabat hanya mengetahui hal-hal halal dan haram saja. Apabila ada suatu perintah maka langsung mereka kerjakan tanpa mempertanyakan apakah sunnah atau wajib, demikian pula suatu larangan langsung mereka tinggalkan tanpa banyak bertanya apakah haram atau telah disebutkan bahwa suatu larangan mesti ditinggalkan secara mutlak, kecuali dalam keadaan darurat, sebagaimana kaidah ร‡รกร–รธรณร‘รตรฆรบร‘รณร‡รŠรต รŠรตรˆรถรญรบรรต ร‡รกรบรฃรณรรบร™รตรฆรบร‘รณร‡รŠรถ โ€œHal yang darurat menjadikan hal yang dilarang itu menjadi bolehโ€Namun jangan kaidah ini saja yang kita sebutkan, tapi hendaknya kita juga mengingat kaidah lain bahwa ร‡รกร–รธรณร‘รตรฆรบร‘รณร‰รต รŠรตรžรณรรธรณร‘รต รˆรถรžรณรรณร‘รถรฅรณร‡ โ€œDarurat itu ada kadarnya/batasannyaโ€.Contohnya Seorang yang sangat lapar dan kalau dia tidak makan dikhawatirkan dia bisa mati, maka pada saat itu kita memakai kaidah ร‡รกร–รธรณร‘รตรฆรบร‘รณร‡รŠรต รŠรตรˆรถรญรบรรต ร‡รกรบรฃรณรรบร™รตรฆรบร‘รณร‡รŠรถ darurat menjadikan hal yang dilarang menjadi boleh, sehingga para ulama membolehkan memakan babi dalam keadaan seperti itu. Tetapi hal yang darurat tersebut ada kadarnya, artinya batasannya hanya sekedar untuk menyelamatkan nyawanya, dan tidak boleh lebih dari itu. Namun dalam hal lain, misalnya larangan zina, tidak dikatakan sepotong saja ditinggalkan, tapi semuanya mesti ditinggalkan. Jadi untuk larangan tidak ada istilah sedikit saja dikerjakan, tapi kita mesti berhenti dari hal tersebut secara mutlak. รฆรณรฃรณร‡ รƒรณรฃรณร‘รบ รŠรตรŸรตรฃรบ รˆรถรฅรถ รรณรƒรบรŠรœรตรฆรบร‡ รฃรถรครบรฅรต รฃรณร‡ร‡ร“รบรœรŠรณร˜รณรšรบรœรŠรตรฃรบ โ€ฆ ๏€ฏ โ€œApa-apa yang telah aku perintahkan kepadamu maka kerjakanlah sekemampuanmuโ€. Perintah ada dua macam 1. Sifatnya wajib. Ulama ushul mendefinisikan wajib sebagai รฃรณร‡ รญรตร‹รณร‡รˆรต รšรณรกรณรญ รรถรšรบรกรถรฅรถ ร‡ รฃรบรŠรถร‹รณร‡รกร‡ รฆรณ รญรตรšรณร‡รžรณรˆรต รšรณรกรณรญ รŠรณร‘รบรŸรถรฅรถโ€œApa-apa yang diberikan pahala ketika mengerjakannya dengan niat mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya dan mendapatkan dosa ketika ditinggalkanโ€.Jadi meskipun mengerjakan suatu hal yang wajib tetapi tidak dengan niat mengamalkan perintah Allah dan RasulNya maka tidak mendapatkan pahala. Sebagai contoh, seorang yang berjenggot bukan untuk niat mengamalkan perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tetapi sekedar mengikuti mode, maka tidak akan mendapatkan Sifatnya sunnah. Ulama ushul mendefinisikan sunnah sebagai รฃรณร‡ รญรตร‹รณร‡รˆรต รšรณรกรณรญ รรถรšรบรกรถรฅรถ ร‡รฃรบรŠรถร‹รณร‡รกร‡ รฆรณรกร‡รณ รญรตรšรณร‡รžรณรˆรต รšรณรกรณรญ รŠรณร‘รบรŸรถรฅรถโ€œApa-apa yang diberikan pahala ketika mengerjakannya dengan niat mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya dan tidak mendapatkan dosa bagi yang meninggalkannyaโ€Hendaknya seorang muslim memperhatikan amalan-amalan sunnah, untuk lebih mengangkat derajatnya di sisi Allah shallallahu alaihi wa sallam. Apalagi fungsi sunnah adalah untuk menambah kekurangan yang ada pada yang amalan wajib, sementara kita senantiasa melakukan kekurangan-kekurangan dalam amalan wajib kita, karena itu kekurangan tersebut perlu disempurnakan dengan amalan-amalan dari รฃร‡ ร‡ ร“รŠร˜รšรŠรฃโ€โ€ adalah bolehnya kita mengerjakan sebagian dari rukun-rukun suatu amalan ibadah atau wajib dari suatu amalan ibadah. Misalnya, shalat adalah suatu ibadah yang terdiri dari rukun dan wajib. Berdiri adalah salah satu rukun dalam shalat, sehingga seorang yang mampu untuk berdiri maka wajib berdiri. Tetapi bila ia tidak mampu berdiri maka tidak dikatakan bahwa telah hilang baginya hukum shalat, namun tetap diperintahkan sekemampuannya. Misalnya juga shalat jamaโ€™ah adalah wajib, namun orang yang mempunyai udzur tidaklah hilang sama sekali hukum shalat baginya, namun dikerjakan sekemampuannya, kalau tidak dapat berjamaโ€™ah di masjid maka ia mengerjakannya di rumahnya. Contoh lain, berwudhu sebelum shalat adalah wajib, namun jika air yang tersedia sedikit tidak mencukupi, maka ia berwudhu dengan air yang ada dan adapun sisa anggota tubuh yang belum terkena air bisa dengan tayammum. Demikian pula seseorang yang mau mengeluarkan zakat fithri, maka yang mesti dikeluarkan adalah sebesar satu shaโ€™ bagi orang yang memiliki kelebihan makanan, namun bagi orang yang memiliki kelebihan makanan kurang dari satu shaโ€™ maka ia mengeluarkan sekemampuannya. Hal ini sebagaimana kaidah รฃรณร‡ รกร‡รณ รญรตรรบร‘รณรŸรต รŸรตรกรธรตรฅรต รกร‡รณ รญรตรŠรบร‘รณรŸรต รŸรตรกรธรตรฅรต โ€œApa-apa yang tidak bisa diambil semuanya, maka tidak ditinggalkan semuanyaโ€. Atau รฃรณร‡ รกร‡รณ รญรตรรบร‘รณรŸรต รŸรตรกรธรตรฅรต รกร‡รณ รญรตรŠรบร‘รณรŸรต รŒรตรกรธรตรฅรต โ€œApa-apa yang tidak bisa diambil semuanya, maka tidak ditinggalkan sebagian besarnyaโ€. Hal tersebut di atas berbeda dengan larangan, yang mesti ditinggalkan sama sekali secara mutlak. Misalnya, seorang yang tidak mampu meninggalkan musik secara keseluruhan, maka tidaklah dikatakan kepadanya untuk meninggalkan musik sebagian saja, atau seorang yang tidak dapat meninggalkan minum khamar sebotol maka tidaklah dikatakan kepadanya untuk minum segelas saja, tetapi mesti ditinggalkan semuanya. Namun kaidah di atas pun tidak secara mutlak digunakan. Misalnya, seorang yang sakit yang tidak sanggup berpuasa sehari penuh, maka tidak dikatakan boleh berpuasa setengah hari. Namun bagi yang tidak sanggup, hilang baginya kewajiban puasa dan harus mengqadha di waktu yang lain. Jadi ada perintah yang dikerjakan sekemampuannya dan ada juga perintah yang ketika kita tidak sanggup maka hilanglah kewajiban darinya. Mengapa kita mesti mengerjakan apa-apa yang diperintahkan sekemampuan kita dan meninggalkan secara mutlak apa-apa yang dilarang, karena jangan sampai kita melakukan sebagaimana yang pernah dilakukan ummat-ummat sebelum kita, yang mana bila datang suatu perintah atau larangan, maka mereka diskusikan terlebih dahulu atau mereka menunda-nunda suatu amalan, sehingga suatu saat ketika kewajiban sudah sampai kepadanya, maka mereka menunda-nundanya dan akhirnya meninggalkannya tidak mengerjakan perintah atau tidak meninggalkan larangan tersebut. รรณร…รถรครธรณรฃรณร‡ รƒรณรฅรบรกรณรŸรณ ร‡รกรธรณรถรญรบรครณ รฃรถรครบ รžรณรˆรบรกรถรŸรตรฃรบ รŸรณร‹รบร‘รณร‰รต รฃรณร“รณร‡ร†รถรกรถรฅรถรฃรบ รฆรณร‡รŽรบรœรŠรถรกร‡รณรรตรฅรตรฃรบ รšรณรกรฌรณ รƒรณรครบรˆรถรœรญรณร‡ร†รถรฅรถรฃรบ โ€ฆ ๏€ฏ โ€œBahwasanya celakanya orang-orang sebelum kalian hanya karena banyaknya pertanyaan-pertanyaan mereka dan perselisihan mereka terhadap Nabi-Nabi merekaโ€โ€.Secara umum, ummat Islam adalah ummat yang sempurna. Agama Islam adalah agama yang sempurna. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah nabi yang terakhir dan untuk seluruh ummat, yang menyempurnakan apa yang kurang dari ajaran-ajaran terdahulu. Sehingga tidak dibutuhkan lagi ajaran-ajaran di luar Islam. Bila ada suatu kebaikan pada ummat terdahulu, maka itupun sudah ada dalam Islam. Maka tidak boleh dikatakan bahwa untuk masalah ini kita ambil dari Nashrani, masalah ini diambil dari Yahudi, dan selebihnya diambil dari Islam. Sama halnya jika kita mengatakan bahwa manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan sempurna, serta tidak butuh lagi dari yang lainnya. Makanya salah bagi seorang yang berprinsip aqidahnya aqidah salaf, ibadahnya ibadah shufi, akhlaqnya akhlaq sunni, daโ€™wahnya daโ€™wah ini dan seterusnya, karena รŸรตรกรธรต รŽรณรญรบร‘รฒ รรถรญ ร‡รŠรธรถรœรˆรณร‡รšรถ รฃรณรครบ ร“รณรกรณรรณ รฆรณ รŸรตรกรธรต ร”รณร‘รธรฒ รรถรญ ร‡รˆรบรŠรถรรณร‡รšรถ รฃรณรครบ รŽรณรกรณรรณ โ€œSetiap kebaikan ada dalam mengikuti salaf dan setiap keburukan adalah bidโ€™ah yang dilakukan oleh orang-orang sesudahnyaโ€. Islam telah sempurna, karena itulah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam banyak melarang kita untuk mengikuti apa-apa yang ada pada ummat-ummat lainnya. Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan โ€œjangan mengikutiโ€ maka berarti ummat-ummat terdahulu itu telah salah dalam mengamalkan ajaran mereka. Bukan berarti bahwa semua yang ada pada ummat terdahulu itu salah sehingga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang kita untuk tasyabbuh kepada mereka, namun apa yang baik sudah ada dalam Islam, sehingga ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang mengikuti ummat terdahulu maksudnya mengikuti yang tidak baik pada mereka yang dilarang pada ummat ini. Larangan tasyabbuh termasuk dalam maqaashid asy syariโ€™ah maksud dari turunnya syariโ€™at, karena itu kita mesti menjauhinya, walaupun kita tidak meniatkan untuk tasyabbuh, sebab itu telah jatuh kepada larangan. Misalnya, ada orang yang melakukan suatu amalan Yahudi, yangmana dia sebenarnya tidak meniatkan melakukan amalan tersebut untuk tasyabbuh kepada Yahudi, namun dia telah terjatuh pada larangan. Atau misalnya model rambut yang menyerupai kaum kuffar dan adalah produk mereka, maka walaupun tidak berniat untuk mengikuti orang kuffar, namun orang yang melakukannya tetap telah terjatuh dalam tasyabbuh dan melanggar maqashid asy syariโ€™ah. Larangan tasyabbuh sangat banyak sekali disebutkan baik dalam Al Quran maupun As Sunnah. Allah subhaanahu wa taโ€™ala menyebutkan dalam Al Quran banyak sifat Yahudi dan Nashrani untuk kita tinggalkan. Bahkan surat pertama yang dibaca dalam mushhaf menjelaskan bagaimana kita diperintahkan untuk senantiasa berdoโ€™a agar berbeda dengan Yahudi dan Nashrani. Firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ ร‡รฅรบรรถรครณร‡ ร‡รกร•รธรถร‘รณร‡ร˜รณ ร‡รกรบรฃรตร“รบรŠรณรžรถรญรฃรณ . ร•รถร‘รณร‡ร˜รณ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รƒรณรครบรšรณรฃรบรŠรณ รšรณรกรณรญรบรฅรถรฃรบ ร›รณรญรบร‘รถ ร‡รกรบรฃรณร›รบร–รตรฆรˆรถ รšรณรกรณรญรบรฅรถรฃรบ รฆรณรกร‡รณ ร‡รกร–รธรณร‡รกรธรถรญรครณ ๏€จ ร‡รกรร‡รŠรร‰ 6-7 โ€œTunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesatโ€.Al Fatihah 6 โ€“ 7โ€œ ร‡รกรบรฃรณร›รบร–รตรฆรบรˆรถ รšรณรกรณรญรบรฅรถรฃรบ โ€ adalah orang Yahudi, dan โ€œ ร‡รกร–รธรณร‡รกรธรถรญรบรครณ โ€ adalah orang Nashrani. Kita diperintahkan untuk membaca ayat ini minimal 17 kali sehari-semalam, dan ini menunjukkan pentingnya untuk kita tidak bertasyabbuh kepada mereka. Dan larangan tasyabbuh dalam hadits lebih banyak lagi, baik secara global mujmal maupun secara rinci mufashshal. Yang mujmal, misalnya sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang hasan รฃรณรครบ รŠรณร”รณรˆรธรณรฅรณ รˆรถรžรณรฆรบรฃรฒ รรณรฅรตรฆรณ รฃรถรครบรฅรตรฃรบ ร‘รฆร‡รฅ รƒรˆรฆ รร‡รฆร รฆ รƒรรฃร โ€œBarangsiapa yang tasyabbuh menyerupai dengan suatu kaum, maka dia sama dengan kaum tersebutโ€. HR. Abu Dawud dan Ahmad Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Saโ€™id Al Khudri radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda รกรณรœรŠรณรŠรธรณรˆรถรšรตรครธรณ ร“รณรครณรครณ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รฃรถรครบ รžรณรˆรบรกรถรŸรตรฃรบ ร”รถรˆรบร‘ร‡ รˆรถร”รถรˆรบร‘รฒ รฆรณรถร‘รณร‡รšร‡ รˆรถรถร‘รณร‡รšรฒ รรณรŠรธรณรฌ รกรณรฆรบ รรณรŽรณรกรตรฆร‡ รรถรญ รŒรตรรบร‘รถ ร–รณรˆรธรฒ รกร‡รณรŠรธรณรœรˆรณรšรบรŠรตรฃรตรฆรฅรตรฃรบ ยก รžรตรกรบรครณร‡ รญรณร‡ ร‘รณร“รตรฆรกรณ ร‡รกรกรฅรถ ร‚รกรบรญรณรฅรตรฆรรณ รฆรณร‡รกรครธรณร•รณร‡ร‘รณรฌ ยฟ รžรณร‡รกรณ รรณรฃรณรครบ ! ร‘รฆร‡รฅ ร‡รกรˆรŽร‡ร‘รญ รฆ รฃร“รกรฃ โ€œSungguh-sungguh kalian akan mengikuti tatacara hidup orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai walaupun mereka masuk ke lubang biawak, kalian juga mengikuti merekaโ€. Lalu shahabat bertanya โ€œApakah Yahudi dan Nashrani ya Rasulullah ?โ€. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab โ€œSiapa lagi ?โ€. HR. Bukhari dan Muslim Dan larangan tasyabbuh secara khusus yakni misalnya sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam รŽรณร‡รกรถรรตรฆร‡ ร‡รกรบรญรณรฅรตรฆรรณ รรณร…รถรครธรณรฅรตรฃรบ รกร‡รณ รญรตร•รณรกรธรตรฆรครณ รรถรญ รครถรšรณร‡รกรถรฅรถรฃรบ รฆรณรกร‡รณ รŽรถรรณร‡รรถรฅรถรฃรบ ร‘รฆร‡รฅ รƒรˆรฆ รร‡รฆร โ€œBerbedalah dengan Yahudi karena sesungguhnya mereka itu tidak sholat dengan memakai sandal dan sepatuโ€. HR. Abu DawudOrang Yahudi tidak mau shalat memakai sandal, padahal itu disyariโ€™atkan, tentu saja dalam kondisi yang memungkinkan, seperti shalat di padang atau di tanah. Demikian juga dalam masalah jenggot Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda รŒรตร’รธรตรฆร‡ ร‡รกร”รธรณรฆรณร‡ร‘รถรˆรณ รฆรณรƒรณร‘รบรŽรตรฆร‡ ร‡รกรกรธรถรรณรฌ รŽรณร‡รกรถรรตรฆร‡ ร‡รกรบรฃรณรŒรตรฆร“รณ รฃร“รกรฃ โ€œPotonglah kumis dan biarkanlah jenggot berbedalah dengan orang Majusiโ€. HR. MuslimHadits ini juga adalah larangan tasyabbuh secara khusus. Untuk mengetahui secara rinci mengenai masalah tasyabbuh dapat dibaca buku yang ditulis oleh Syaikh bin Abdul Karim Al-Aql รรร™รฅ ร‡รกรกรฅ berjudul โ€œTasyabbuhโ€, dan yang menjadi rujukan utama dalam masalah tasyabbuh adalah buku โ€œIqtidha` Ash-Shirathil Mustaqiim Mukhaalafata Ashhaabil Jahiimโ€ Konsekuensi mengikuti Jalan yang Lurus adalah Menyelisihi Penghuni Neraka karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ร‘รรฃรฅ hadits ini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan dua perkara diantara perkara-perkara yang menyebabkan binasanya ummat-ummat terdahulu. Kedua perkara tersebut adalah โ€œ banyaknya pertanyaan-pertanyaan merekaโ€ dan โ€œperselisihan mereka terhadap nabi-nabi merekaโ€. ๏ถ Banyak Bertanya รŸร‹ร‘ร‰ รฃร“ร‡ร†รกรฅรฃ Pada pembahasan hadits ke-2 Al Arbaโ€™in An Nawiyah dibahas tentang disyariโ€™atkannya bertanya bagi thalabul ilmi dan perintah untuk bertanya dan ia adalah kunci dari ilmu. Namun pertanyaan yang dimaksud dalam hadits tersebut tidak sebagaimana yang dimaksud Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada hadits ini. Sababul wurud hadits ini dapat menjelaskan tentang jenis-jenis pertanyaan yang dilarang. Jenis-jenis pertanyaan yang dilarang adalah 1. Bertanya terhadap hal-hal yang didiamkan oleh syariโ€™at. Mungkin kita ingin mengetahui hikmahnya atau selainnya, namun jika didiamkan maka hendaknya kita juga mendiamkannya. Karena boleh jadi pertanyaan itu justru menyulitkan kita. Sebagaimana sababul wurud hadits ini, dan inilah makna firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ รญรณร‡รƒรณรญรธรตรฅรณร‡ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รรณร‡รฃรณรครตรฆร‡ รกร‡รณ รŠรณร“รบรƒรณรกรตรฆร‡ รšรณรครบ รƒรณร”รบรญรณร‡รรณ ร…รถรครบ รŠรตรˆรบรรณ รกรณรŸรตรฃรบ รŠรณร“รตร„รบรŸรตรฃรบ รฆรณร…รถรครบ รŠรณร“รบรƒรณรกรตรฆร‡ รšรณรครบรฅรณร‡ รรถรญรครณ รญรตรครณร’รธรณรกรต ร‡รกรบรžรตร‘รบรรณร‡รครต รŠรตรˆรบรรณ รกรณรŸรตรฃรบ รšรณรรณร‡ ร‡รกรกรฅรต รšรณรครบรฅรณร‡ รฆรณร‡รกรกรฅรต ร›รณรรตรฆร‘รฑ รรณรกรถรญรฃรฑ ๏€จ ร‡รกรฃร‡ร†รร‰ 101 โ€œHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan kepada Nabimu hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qurโ€™an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah mema`afkan kamu tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantunโ€. Diamnya syariโ€™at baik dari Allah subhaanahu wa taโ€™ala maupun Rasul-Nya, bukanlah karena lupa, namun karena rahmat kepada kita. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam โ€ฆรฆรณร“รณรŸรณรŠรณ รšรณรครบ รƒรณร”รบรญรณร‡รรณ ร‘รณรรบรฃรณร‰ รกรณรŸรตรฃรบ ร›รณรญรบร‘รณ รครถร“รบรญรณร‡รครฒ รรณรกร‡รณ รŠรณรˆรบรรณร‹รตรฆร‡ รšรณรครบรฅรณร‡ ร‘รฆร‡รฅ ร‡รกรร‡ร‘รžร˜รครญ รฆ ร›รญร‘รฅ โ€œDan Allah telah mendiamkan beberapa perkara karena rahmat kepada kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian membahasnyaโ€HR. Ad Daaraquthni dan selainnya. Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ร…รถรครธรณ รƒรณรšรบร™รณรฃรณ ร‡รกรบรฃรตร“รบรกรถรฃรถรญรครณ รรถรญ ร‡รกรบรฃรตร“รบรกรถรฃรถรญรครณ รŒรตร‘รบรฃร‡ รฃรณรครบ ร“รณรƒรณรกรณ รšรณรครบ ร”รณรญรบรรฒ รกรณรฃรบ รญรตรรณร‘รธรณรฃรบ รšรณรกรณรฌ ร‡รกรบรฃรตร“รบรกรถรฃรถรญรครณ รรณรรตร‘รธรถรฃรณ รšรณรกรณรญรบรฅรถรฃรบ รฃรถรครบ รƒรณรŒรบรกรถ รฃรณร“รบรƒรณรกรณรŠรถรฅรถ ร‘รฆร‡รฅ ร‡รกรˆรŽร‡ร‘รญ รฆ รฃร“รกรฃ รฆ รกรกรร™ รกรฃร“รกรฃ โ€œOrang muslim yang paling berdosa kepada muslim yang lainnya adalah siapa yang bertanya tentang suatu masalah yang sebenarnya tidak/belum diharamkan kepada kaum muslimin, setelah ia bertanya maka diharamkan akibat pertanyaannyaโ€.HR. Bukhari dan Muslim. Jadi orang seperti ini berdosa kepada orang muslim yang lain karena ia adalah penyebab hukum yang menyulitkan orang muslim yang lain itu. Karena itu diamnya Allah dan Rasul-Nya terhadap suatu masalah bukanlah karena lupa, tapi karena hikmah dan rahmat-Nya kepada kita. Namun bagaimana dengan keadaan kita saat sekarang ?. Misalnya, seseorang mengatakan, โ€œTidak usah kita bertanya bagaimana hukumnya ini dan itu, apa hukumnya musik, sebab jika nanti dikatakan haram, maka sulit bagi kita meninggalkannyaโ€. Apakah hal ini juga termasuk dalam bertanya yang dilarang ?. Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani ร‘รรฃรฅรฃร‡ ร‡รกรกรฅ mengatakan bahwa larangan bertanya yang seperti ini berlaku ketika wahyu masih turun. Karena wahyu belum sempurna, dan tidak boleh bertanya karena hukum masih dapat berubah pada saat itu, yang mungkin awalnya halal kemudian karena pertanyaan dapat saja berubah menjadi haram. Namun ketika wahyu telah sempurna, kata Imam Ibnu Hajar ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ, maka wajib kita bertanya tentang hukum-hukum apabila kita ingin mengerjakan sesuatu. Misalnya apabila seseorang ingin menabung di bank-bank riba, dia harus menanyakan dahulu apa hukumnya, tidak boleh dikatakan, โ€œTidak usah bertanya apa hukumnya menabung di bank, karena nanti dikatakan haram, sehingga kita tidak boleh menabungโ€, namun hal seperti ini mesti ditanyakan. Apa saja masalah-masalah yang belum kita ketahui hukumnya maka kita perlu menanyakannya. Tetapi ada saja masalah-masalah yang tidak berkaitan dengan halal dan haram sehingga tidak perlu ditanyakan. Seperti halnya dalam urusan dunia kita saat sekarang ini; misalnya salah seorang ustadz kita mengatakan, โ€œAda tugas, wajib kalian menghafal ini.โ€ Pekan berikutnya ketika waktunya tiba untuk mengecek hafalan, beliau tidak mengeceknya. Mungkin ada yang tidak menghafal tugas, dan beliau sebenarnya telah mengetahuinya, karena itu beliau sengaja tidak mengecek hafalan. Lalu ada yang bertanya dengan maksud mengingatkan ustadz, โ€œAda hafalan?โ€, maka ini pertanyaan yang menyulitkan bagi yang lainnya. Tapi itu ketika kita yakin bahwa beliau ingat dan ditinggalkan karena โ€œrahmat bagi kitaโ€. Tetapi jika kita yakin bahwa beliau benar-benar lupa akan adanya kewajiban itu, maka tidak apa-apa bertanya untuk mengingatkan. Ala kulli haal, kadang hal ini masih bisa kita praktekkan juga dalam masalah kehidupan kita sehari-hari, jangan sampai kita bertanya hal-hal yang justru menyulitkan kita. 2. Bertanya terhadap hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Sebagaimana orang-orang Badui yangmana mereka kurang beradab dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah nabi yang mulia yang Allah subhaanahu wa taโ€™ala turunkan untuk menjelaskan halal dan haram, tapi mereka datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan pertanyaan yang tidak bermanfaat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits รšรณรครบ รƒรณรˆรถรญ รฃรตรฆร“รณรฌ รžรณร‡รกรณ ร“รตร†รถรกรณ ร‡รกรครธรณรˆรถรญรธรต ๏ฒ รšรณรครบ รƒรณร”รบรญรณร‡รรณ รŸรณร‘รถรฅรณรฅรณร‡ รรณรกรณรฃรธรณร‡ รƒรตรŸรบร‹รถร‘รณ รšรณรกรณรญรบรฅรถ ร›รณร–รถรˆรณ ร‹รตรฃรธรณ รžรณร‡รกรณ รกรถรกรครธรณร‡ร“รถ ร“รณรกรตรฆรครถรญ รšรณรฃรธรณ ร”รถร†รบรŠรตรฃรบ ยก รรณรžรณร‡รกรณ ร‘รณรŒรตรกรฑ รฃรณรครบ รƒรณรˆรถรญ ยฟ รžรณร‡รกรณ รƒรณรˆรตรฆรŸรณ รรตรณร‡รรณร‰รต ยก รรณรžรณร‡รฃรณ ร‚รŽรณร‘รต รรณรžรณร‡รกรณ รฃรณรครบ รƒรณรˆรถรญ รญรณร‡ ร‘รณร“รตรฆรกรณ ร‡รกรกรฅรถ ยฟ รžรณร‡รกรณ รƒรณรˆรตรฆรŸรณ ร“รณร‡รกรถรฃรฑ รฃรณรฆรบรกรณรฌ ร”รณรญรบรˆรณร‰รณ ยก รรณรกรณรฃรธรณร‡ ร‘รณรƒรณรฌ รšรตรฃรณร‘รต รฃรณร‡ รรถรญ รฆรณรŒรบรฅรถ ร‘รณร“รตรฆรกรถ ร‡รกรกรฅรถ ๏ฒ รฃรถรครณ ร‡รกรบร›รณร–รณรˆรถ รžรณร‡รกรณ รญรณร‡ ร‘รณร“รตรฆรกรณ ร‡รกรกรฅรถ ร…รถรครธรณร‡ รครณรŠรตรฆรˆรต ร…รถรกรณรฌ ร‡รกรกรฅรถ ร‘รฆร‡รฅ รฃร“รกรฃ โ€œDari Abu Musa Al Asyโ€™ari radhiyallahu anhu berkata Nabi shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang beberapa hal yang beliau tidak menyukainya, ketika telah banyak ditanyakan beliau marah kemudian berkata kepada manusia โ€œBertanyalah kepadaku apa yang kalian inginkanโ€. Maka berkata seorang laki-laki โ€œSiapa bapakku ?โ€. Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab โ€œBapakmu Hudzafahโ€. Kemudian berdiri yang lain dan berkata โ€œSiapa bapakku, ya Rasulullah ?โ€. Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab โ€œBapakmu Saalim maula Syaibahโ€. Maka ketika Umar ๏ด melihat perubahan di wajah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam karena marah, beliau berkata โ€œYa Rasulullah, sesungguhnya kami bertaubat kepada Allahโ€. HR. Muslim Bahkan dalam riwayat yang lain dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu disebutkan bahwa sampai-sampai Umar radhiyallahu anhu berlutut mendengarkan pertanyaan-pertanyaan mereka, kemudian berkata ร‘รณร–รถรญรบรครณร‡ รˆรถร‡รกรกรฅรถ ร‘รณรˆรธร‡ รฆรณรˆรถร‡รบรกร…รถร“รบรกร‡รณรฃรถ รรถรญรคร‡ รฆรณรˆรถรฃรตรรณรฃรธรณรรฒ ร•รณรกรธรณรฌ ร‡รกรกรฅรต รšรณรกรณรญรบรฅรถ รฆรณร“รณรกรธรณรฃรณ รครณรˆรถรญรธร‡ รรณร“รณรŸรณรŠรณ ร‘รฆร‡รฅ ร‡รกรˆรŽร‡ร‘รญ รฆ รฃร“รกรฃ โ€œKami ridha dengan Allah menjadi Rabb kami, Islam menjadi agama kami, dan Muhammad ๏ฒ menjadi nabi kami, kemudian beliau diamโ€.HR. Bukhari dan MuslimDan sampai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga berubah wajahnya karena marah ketika ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Di sini ada suatu pelajaran bahwa ketika ada seorang alim bersama kita maka janganlah kita menanyakan masalah-masalah duniawi, karena ia juga tidak tahu secara baik masalah-masalah itu. Namun manfaatkanlah ilmunya mengenai ad-diin, dan tanyakanlah masalah-masalah ad-diin kepadanya. Karena kadang ada seseorang dimana sudah ada seorang alim di dekatnya, namun hanya masalah-masalah dunia saja yang dibicarakannya, akhirnya hilanglah waktunya namun tidak ada manfaat ad-diin yang diambilnya. Jadi hendaknya kita bertanya dengan pertanyaan yang bermanfaat yang dibutuhkan untuk dunia dan pertanyaan yang tidak bermanfaat adalah pertanyaan yang tidak melahirkan amalan dan kalau kita jahil mengenai hal tersebut maka tidak mengapa. Misalnya pertanyaan โ€œBerapa jumlah bintang di langit ?โ€, atau โ€œNama-nama Ash-habul Kahfi atau nama anjingnyaโ€, dan sebaginya. Hal-hal seperti ini meskipun orang tahu semuanya, tidak akan menambah aqidah dan amalan kita, dan memang kita tidak pernah diperintahkan untuk membahasnya. Dan pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan yang tidak bermanfaat dan membuang-buang waktu saja. 3. Pertanyaan sekedar untuk istihzaโ€™ mengejek atau sekedar untuk menyulitkan saja, atau untuk berbantahan/berdebat. Pertanyaan seperti ini pun dilarang. Dan ulama kita mencontohkan dalam masalah ini sama dengan pertanyaan orang Badui di atas point ke-2, karena mereka bertanya juga terkadang untuk istihzaโ€™ kepada Nabi ๏ฒ, sebagaimana disebutkan dalam hadits รšรณรครถ ร‡รˆรบรครถ รšรณรˆรธรณร‡ร“รฒ ร‘รณร–รถรญ ร‡รกรกรฅรต รšรณรครบรฅรฃร‡ รžรณร‡รกรณ รŸรณร‡รครณ รžรณรฆรบรฃรฑ รญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณ ร‘รณร“รตรฆรกรณ ร‡รกรกรฅรถ ๏ฒ ร‡ร“รบรŠรถรฅรบร’รณร‡ร รรณรญรณรžรตรฆรกรต ร‡รกร‘รธรณรŒรตรกรต รฃรณรครบ รƒรณรˆรถรญ ยฟ รฆรณรญรณรžรตรฆรกรต ร‡รกร‘รธรณรŒรตรกรต รŠรณร–รถรกรธรต รครณร‡รžรณรŠรตรฅรต รƒรณรญรบรครณ รครณร‡รžรณรŠรถรญ ยฟ รรณรƒรณรครบร’รณรกรณ ร‡รกรกรฅรต รรถรญรฅรถรฃรบ รฅรณรถรฅรถ ร‡รบรกร‚รญรณร‰รณ ๏€ฉ รญรณร‡ รƒรณรญรธรตรฅรณร‡ ร‡รกรธรณรถรญรครณ ร‚รฃรณรครตรฆร‡ รกรณร‡ รŠรณร“รบรƒรณรกรตรฆร‡ รšรณรครบ รƒรณร”รบรญรณร‡รรณ ร…รถรครบ รŠรตรˆรบรรณ รกรณรŸรตรฃรบ รŠรณร“รตร„รบรŸรตรฃรบ ๏€จ ร‘รฆร‡รฅ ร‡รกรˆรŽร‡ร‘รญ โ€œDari Ibnu Abbas ๏ด berkata Adalah suatu kaum bertanya kepada Rasulullah ๏ฒ untuk istihzaโ€™ mengejek kepada beliau ๏ฒ, maka berkata seorang laki-laki โ€œSiapa bapakku ?โ€, dan berkata seorang laki-laki yang hilang untanya โ€œDimana untaku?โ€. Maka Allah ๏‰ menurunkan kepada mereka firman-Nya โ€œHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan kepada Nabimu hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu QS. 5 101โ€. HR. BukhariDemikian juga termasuk pertanyaan yang dilarang adalah pertanyaan yang sekedar untuk mendebat saja, dimana kadang ia telah tahu jawabannya, tapi ia hanya ingin menampakkan dirinya lebih tahu daripada yang ditanya atau untuk sekedar berdiskusi saja. Diriwayatkan dari perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa akan ada fitnah di akhir zaman, lalu ketika Umar radhiyallahu anhu menanyakan kapan itu terjadi, maka beliau radhiyallahu anhu berkata โ€œApabila seseorang yang bertafaqquh fii Ad Din bukan untuk Ad Din, berilmu bukan untuk beramal, dan menuntut dunia bukan menuntut akhiratโ€ 4. Pertanyaan tentang masalah-masalah yang belum terjadi dan mustahil/sangat kecil kemungkinan akan terjadi. Banyak diantara para shahabat ketika ditanya tentang suatu masalah, mereka bertanya terlebih dahulu apakah masalah tersebut telah terjadi atau belum, kalau belum, maka mereka menyuruh untuk menunda pertanyaan tersebut sampai terjadinya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu, beliau berkata โ€œJanganlah kalian bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi, karena sesungguhnya saya mendengar Umar radhiyallahu anhu melaknat penanya yang bertanya tentang sesuatu yang belum terjadiโ€ Demikian pula Zaid bin Tsabit ๏ด ketika beliau ditanya tentang sesuatu, maka beliau radhiyallahu anhu berkata โ€œApakah ini sudah terjadi ?โ€, maka apabila dikatakan belum terjadi, maka beliau radhiyallahu anhu berkata โ€œTinggalkanlah sampai terjadinyaโ€ . Hal yang serupa diriwayatkan pula dari sahabat yang lain seperti Ubay bin Kaโ€™ab radhiyallahu anhu, Ammar radhiyallahu anhu dan yang lainnya. Kadang kita mendengar ada orang yang datang dengan permasalahan yang ia buat-buat sendiri atau ia ingin membuat persoalan yang tidak bisa dijawab dan belum pernah terjadi, bahkan mungkin saja tidak akan terjadi. Maka orang yang demikian adalah ahlur-raโ€™yi, dan ini adalah hal yang dilarang. Jadi hampir semua shahabat menunda jawaban ketika pertanyaan itu mengenai sesuatu yang belum terjadi, kecuali kalau pertanyaan mengenai sesuatu yang akan terjadi dan pasti terjadi. Sebagaimana para shahabat pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenai hal yang belum terjadi tetapi akanpasti terjadi sebagaimana yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam khabarkan. Misalnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda โ€œAkan datang kepadamu suatu zaman dimana pemerintah akan berbuat zhalim, mengambil hartamu, hanya menuntut hak-haknya saja dan tidak memberikan hak-hak kepadamuโ€. Maka para shahabat bertanya โ€œBagaimana sikap kami terhadap pemerintah seperti itu ?โ€. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda โ€œJangan keluar dari pemerintahannya selama ia masih menegakkan shalatโ€. Jadi para shahabat dibolehkan menanyakan hal tersebut karena ia hal yang pasti terjadi, disebabkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang mengabarkannya. Jadi boleh bertanya mengenai apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam khabarkan, misalnya seperti khabar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenai tanda-tanda hari kiamat, akan datangnya Dajjal dan sebagainya. 5. Pertanyaan mengenai masalah yang telah jelas lalu kita tanyakan sehingga menyulitkan diri sendiri. Orang yang bertanya dengan pertanyaan seperti ini adalah orang yang ghuluw dan tasyaddud. Sebagaimana kisah Bani Israil ketika diperintahkan menyembelih sapi betina. Allah subhaanahu wa taโ€™ala memerintahkan mereka untuk menyembelih sapi betina, apa saja warnanya, umur berapa saja, dan tidak ada batasan-batasannya. Tapi mereka bertanya yang akhirnya menyulitkan diri mereka sendiri. Kisah mereka disebutkan dalam surah Al Baqarah 67 โ€“ 71 ๏€ฉ รฆรณร…รถรบ รžรณร‡รกรณ รฃรตรฆร“รณรฌ รกรถรžรณรฆรบรฃรถรฅรถ ร…รถรครธรณ ร‡รกรกรฅรณ รญรณรƒรบรฃรตร‘รตรŸรตรฃรบ รƒรณรครบ รŠรณรบรˆรณรรตรฆร‡ รˆรณรžรณร‘รณร‰ รžรณร‡รกรตรฆร‡ รƒรณรŠรณรŠรธรณรŽรถรตรครณร‡ รฅรตร’รตรฆร‡ รžรณร‡รกรณ รƒรณรšรตรฆรต รˆรถร‡รกรกรฅรถ รƒรณรครบ รƒรณรŸรตรฆรครณ รฃรถรครณ ร‡รกรบรŒรณร‡รฅรถรกรถรญรครณ . รžรณร‡รกรตรฆร‡ ร‡รรบรšรต รกรณรครณร‡ ร‘รณรˆรธรณรŸรณ รญรตรˆรณรญรธรถรครบ รกรณรครณร‡ รฃรณร‡ รฅรถรญรณ รžรณร‡รกรณ ร…รถรครธรณรฅรต รญรณรžรตรฆรกรต ร…รถรครธรณรฅรณร‡ รˆรณรžรณร‘รณร‰รฑ รกร‡รณ รรณร‡ร‘รถร–รฑ รฆรณรกร‡รณ รˆรถรŸรบร‘รฑ รšรณรฆรณร‡รครฑ รˆรณรญรบรครณ รณรกรถรŸรณ รรณร‡รรบรšรณรกรตรฆร‡ รฃรณร‡ รŠรตร„รบรฃรณร‘รตรฆรครณ . รžรณร‡รกรตรฆร‡ ร‡รรบรšรต รกรณรครณร‡ ร‘รณรˆรธรณรŸรณ รญรตรˆรณรญรธรถรครบ รกรณรครณร‡ รฃรณร‡ รกรณรฆรบรครตรฅรณร‡ รžรณร‡รกรณ ร…รถรครธรณรฅรต รญรณรžรตรฆรกรต ร…รถรครธรณรฅรณร‡ รˆรณรžรณร‘รณร‰รฑ ร•รณรรบร‘รณร‡รรต รรณร‡รžรถรšรฑ รกรณรฆรบรครตรฅรณร‡ รŠรณร“รตร‘รธรต ร‡รกรครธรณร‡ร™รถร‘รถรญรครณ . รžรณร‡รกรตรฆร‡ ร‡รรบรšรต รกรณรครณร‡ ร‘รณรˆรธรณรŸรณ รญรตรˆรณรญรธรถรครบ รกรณรครณร‡ รฃรณร‡ รฅรถรญรณ ร…รถรครธรณ ร‡รกรบรˆรณรžรณร‘รณ รŠรณร”รณร‡รˆรณรฅรณ รšรณรกรณรญรบรครณร‡ รฆรณร…รถรครธรณร‡ ร…รถรครบ ร”รณร‡รรณ ร‡รกรกรฅรต รกรณรฃรตรฅรบรŠรณรรตรฆรครณ . รžรณร‡รกรณ ร…รถรครธรณรฅรต รญรณรžรตรฆรกรต ร…รถรครธรณรฅรณร‡ รˆรณรžรณร‘รณร‰รฑ รกร‡รณ รณรกรตรฆรกรฑ รŠรตร‹รถรญร‘รต ร‡รบรกรƒรณร‘รบร–รณ รฆรณรกร‡รณ รŠรณร“รบรžรถรญ ร‡รกรบรรณร‘รบร‹รณ รฃรตร“รณรกรธรณรฃรณร‰รฑ รกร‡รณ ร”รถรญรณร‰รณ รรถรญรฅรณร‡ รžรณร‡รกรตรฆร‡ ร‡รบรกร‚รครณ รŒรถร†รบรŠรณ รˆรถร‡รกรบรรณรžรธรถ รรณรณรˆรณรรตรฆรฅรณร‡ รฆรณรฃรณร‡ รŸรณร‡รรตรฆร‡ รญรณรรบรšรณรกรตรฆรครณ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 67-71 โ€œDan ingatlah, ketika Musa berkata kepada kaumnya โ€œSesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betinaโ€. Mereka berkata โ€œApakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?โ€ Musa menjawab โ€œAku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahilโ€. Mereka menjawab โ€œMohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.โ€ Musa menjawab โ€œSesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamuโ€. Mereka berkata โ€œMohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanyaโ€. Musa menjawab โ€œSesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.โ€ Mereka berkata โ€œMohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu masih samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk untuk memperoleh sapi itu.โ€ Musa berkata โ€œSesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.โ€ Mereka berkata โ€œSekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnyaโ€. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah ituโ€.Al Baqarah 67 โ€“ 71Dalam ayat disebutkan bahwa hampir saja mereka tidak menyembelihnya, akibat mereka menyulitkan diri mereka sendiri, sehingga begitu sulitnya mereka mencari sapi betina yang disebutkan sifat-sifatnya oleh Allah subhaanahu wa taโ€™ala, padahal tadinya begitu mudah. Karena itu ketika diperintahkan mengerjakan sesuatu maka kerjakanlah itu saja, itu berarti diberikan kemutlakan, dan tidak usah menanyakan untuk merinci hal-hal yang akan menyulitkan diri kita sendiri. 6. Pertanyaan akan hal-hal yang mutasyaabih dan terhadap hal-hal yang ghoib. Sebagaimana dalam firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ รฅรตรฆรณ ร‡รกรธรณรถรญ รƒรณรครบร’รณรกรณ รšรณรกรณรญรบรŸรณ ร‡รกรบรŸรถรŠรณร‡รˆรณ รฃรถรครบรฅรต รรณร‡รญรณร‡รŠรฑ รฃรตรรบรŸรณรฃรณร‡รŠรฑ รฅรตรครธรณ รƒรตรฃรธรต ร‡รกรบรŸรถรŠรณร‡รˆรถ รฆรณรƒรตรŽรณร‘รต รฃรตรŠรณร”รณร‡รˆรถรฅรณร‡รŠรฑ รรณรƒรณรฃรธรณร‡ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รรถรญ รžรตรกรตรฆรˆรถรฅรถรฃรบ ร’รณรญรบร›รฑ รรณรญรณรŠรธรณรˆรถรšรตรฆรครณ รฃรณร‡ รŠรณร”รณร‡รˆรณรฅรณ รฃรถรครบรฅรต ร‡รˆรบรŠรถร›รณร‡รรณ ร‡รกรบรรถรŠรบรครณร‰รถ รฆรณร‡รˆรบรŠรถร›รณร‡รรณ รŠรณรƒรบรฆรถรญรบรกรถรฅรถ รฆรณรฃรณร‡ รญรณรšรบรกรณรฃรต รŠรณรƒรบรฆรถรญรบรกรณรฅรต ร…รถรกร‡รธรณ ร‡รกรกรฅรต รฆรณร‡รกร‘รธรณร‡ร“รถรŽรตรฆรครณ รรถรญ ร‡รกรบรšรถรกรบรฃรถ รญรณรžรตรฆรกรตรฆรครณ รรณร‡รฃรณรครธรณร‡ รˆรถรฅรถ รŸรตรกรธรฑ รฃรถรครบ รšรถรครบรรถ ร‘รณรˆรธรถรครณร‡ รฆรณรฃรณร‡ รญรณรธรณรŸรธรณร‘รต ร…รถรกร‡รธรณ รƒรตรฆรกรตรฆ ร‡รบรกรƒรณรกรบรˆรณร‡รˆรถ ๏€จ ร‚รก รšรฃร‘ร‡รค 7โ€œDia-lah yang menurunkan Al Kitab Al Qurโ€™an kepada kamu. Di antara isi nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qurโ€™an dan yang lain ayat-ayat mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari taโ€™wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui taโ€™wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata โ€œKami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.โ€ Dan tidak dapat mengambil pelajaran daripadanya melainkan orang-orang yang berakalโ€.Ali Imran 7 Pertanyaan seperti inilah yang Allah subhaanahu wa taโ€™ala melarang kita untuk membahasnya. Dan termasuk pertanyaan yang dilarang adalah pertanyaan tentang kaifiyat hal-hal yang ghaib yang hanya Allah subhaanahu wa taโ€™ala saja yang mengetahuinya, seperti pertanyaan tentang kaifiyat tata cara bagaimana Allah subhaanahu wa taโ€™ala beristiwaโ€™, maka itu semua dilarang. Makanya ketika datang seorang laki-laki kepada Imam Malik ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ dan bertanya โ€œBagaimana Allah ๏‰ beristiwaโ€™?โ€, maka beliau menjawab ร‡รกร…รถร“รบรœรŠรณรฆรณร‡รรต รฃรณรšรบรœรกรตรฆรบรฃรฑ รฆรณร‡รกรบรŸรณรญรบรรต รฃรณรŒรบรฅรตรฆรบรกรฑ รฆรณ ร‡รกร“รธรตร„รณร‡รกรต รšรณรครบรฅรต รˆรถรรบรšรณร‰รฑ รฆรณรกร‡รณ รƒรณร‘รณร‡รŸรณ ร…รถรกร‡รธรณร•รณร‡รรถรˆรณ ร‡รกรบรˆรถรรบรšรณร‰รถ โ€œMakna istiwaโ€™ sudah jelas, dan pertanyaan tentang bagaimana Allah beristiwaโ€™ itu tidak dikenal oleh orang-orang terdahulu dan pertanyaan tentangnya adalah bidโ€™ah, dan saya tidak melihat kamu melainkan seorang ahli bidโ€™ahโ€.Maka Imam Malik ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ menyuruh murid-muridnya mengeluarkan orang tersebut dari majelis beliau. Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang dilarang, pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah yang syubhat yang begitu daqiq rinci dalam agama ini yang sebenarnya Allah subhaanahu wa taโ€™ala juga meninggalkannya. Demikian juga dalam masalah sifat-sifat Allah subhaanahu wa taโ€™ala, seperti tangan Allah subhaanahu wa taโ€™ala, maka kita cukup mengatakan bahwa Allah subhaanahu wa taโ€™ala memiliki tangan, dan tidak usah kita memikirkan bagaimana model tangannya Allah subhaanahu wa taโ€™ala , dan bertanya tentang kaifiyat itu adalah hal yang wajib untuk kita tinggalkan. Demikian juga dalam masalah perbuatan-perbuatan Allah subhaanahu wa taโ€™ala, Allah subhaanahu wa taโ€™ala berfirman ๏€ฉ รกร‡รณ รญรตร“รบรƒรณรกรต รšรณรฃรธรณร‡ รญรณรรบรšรณรกรต รฆรณรฅรตรฃรบ รญรตร“รบรƒรณรกรตรฆรครณ ๏€จ ร‡รกรƒรครˆรญร‡ร 23 โ€œDia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyaiโ€.Al-Anbiyaa 23 Maka tidak usah kita bertanya tentang bagaimana pekerjaan-pekerjaan Allah subhaanahu wa taโ€™ala, seperti misalnya bagaimana caranya Allah subhaanahu wa taโ€™ala mengontrol semua pekerjaan manusia, tetapi kita serahkan sepenuhnya kepada Allah subhaanahu wa taโ€™ala, sedangkan kitalah yang akan ditanya oleh Allah subhaanahu wa taโ€™ala. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini kadang datang dari ahlul bidโ€™ah, yang ketika telah dijelaskan kepadanya Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah dalam masalah tersebut, maka terkadang mereka mau hal yang rinci sekali seperti bagaimana kaifiyatnya, padahal yang seperti itu adalah pertanyaan yang dilarang. Kalau kita melihat salafush sholeh, mereka adalah orang-orang yang menjauhkan diri mereka dari banyak bertanya, kecuali pertanyaan yang tidak boleh tidak harus ditanyakan. Sehingga Ibnu Abbas ร‘ร–รญ ร‡รกรกรฅ รšรครฅรฃร‡ pernah mengatakan โ€œSaya tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih baik dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tidaklah mereka bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kecuali dengan dua belas masalah, semuanya ada dalam Al Qurโ€™anโ€. Ke dua belas pertanyaan yang disebutkan dalam Al Quran tersebut adalah โ€ข ๏€ฉ รญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณรŸรณ รšรณรครถ ร‡รบรกรƒรณรฅรถรกรธรณร‰รถ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 189 โ€œMereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit โ€ฆโ€.Al Baqarah 189โ€ข ๏€ฉ รญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณรŸรณ รฃรณร‡รณร‡ รญรตรครบรรถรžรตรฆรครณ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 215 โ€œMereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan โ€ฆโ€.Al Baqarah 215โ€ข ๏€ฉ รญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณรŸรณ รšรณรครถ ร‡รกร”รธรณรฅรบร‘รถ ร‡รกรบรรณร‘รณร‡รฃรถ รžรถรŠรณร‡รกรฒ รรถรญรฅรถ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 217 โ€œMereka bertanya kepadamu tentang berperang di bulan haram โ€ฆโ€.Al Baqarah 217โ€ข ๏€ฉ รญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณรŸรณ รšรณรครถ ร‡รกรบรŽรณรฃรบร‘รถ รฆรณร‡รกรบรฃรณรญรบร“รถร‘รถ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 219 โ€œMereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi โ€ฆโ€.Al Baqarah 219โ€ข ๏€ฉ รฆรณรญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณรŸรณ รšรณรครถ ร‡รกรบรญรณรŠรณร‡รฃรณรฌ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 220 โ€œDan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim โ€ฆโ€.Al Baqarah 220โ€ข ๏€ฉ รฆรณรญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณรŸรณ รšรณรครถ ร‡รกรบรฃรณรรถรญร–รถ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 222 โ€œMereka bertanya kepadamu tentang haidh โ€ฆโ€.Al Baqarah 222โ€ข ๏€ฉ รญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณรŸรณ รฃรณร‡รณร‡ รƒรตรรถรกรธรณ รกรณรฅรตรฃรบ ๏€จ ร‡รกรฃร‡ร†รร‰ 4โ€œMereka menanyakan kepadamu โ€œApakah yang dihalalkan bagi mereka ?โ€.Al Maidah 4โ€ข ๏€ฉ รญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณรŸรณ รšรณรครถ ร‡รกร“รธรณร‡รšรณร‰รถ รƒรณรญรธรณร‡รครณ รฃรตร‘รบร“รณร‡รฅรณร‡ ๏€จ ร‡รกรƒรšร‘ร‡ร 187 โ€œMereka menanyakan kepadamu tentang kiamat โ€œBilakah terjadinya ?โ€.Al Aโ€™raf 187โ€ข ๏€ฉ รญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณรŸรณ รšรณรครถ ร‡รบรกรƒรณรครบรรณร‡รกรถ ๏€จ ร‡รกรƒรครร‡รก 1 โ€œMereka menanyakan kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang โ€ฆโ€.Al Anfal 1 โ€ข ๏€ฉ รฆรณรญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณรŸรณ รšรณรครถ ร‡รกร‘รธรตรฆรรถ ๏€จ ร‡รกร…ร“ร‘ร‡ร 85 โ€œDan mereka bertanya kepadamu tentang roh โ€ฆโ€.Al Israโ€™ 85โ€ข ๏€ฉ รฆรณรญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณรŸรณ รšรณรครบ รถรญ ร‡รกรบรžรณร‘รบรครณรญรบรครถ ๏€จ ร‡รกรŸรฅร 83 โ€œDan mereka bertanya kepadamu tentang Dzulqarnain โ€ฆโ€.Al Kahfi 83โ€ข ๏€ฉ รฆรณรญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณรŸรณ รšรณรครถ ร‡รกรบรŒรถรˆรณร‡รกรถ ๏€จ ร˜รฅ 105 โ€œDan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung โ€ฆโ€.Thaahaa 105 Jadi kata Ibnu Abbas ร‘ร–รญ ร‡รกรกรฅ รšรครฅรฃร‡ bahwa hanya ada sekitar dua belas saja pertanyaan sahabat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan ini karena adab mereka kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, padahal berapa banyak yang mereka ingin tanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Di samping itu juga karena mereka khawatir jangan sampai bertanya tidak pada terkadang para sahabat radhiyallahu anhu sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang hukum peristiwa-peristiwa sebelum peristiwa tersebut terjadi, tetapi untuk mereka amalkan di saat terjadinya, sebagaimana pertanyaan mereka โ€œSesungguhnya besok kami akan bertemu musuh, padahal kami tidak membawa pisau, bolehkah kami menyembelih dengan bambu ?โ€. Atau seperti pertanyaan sahabat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang para penguasa yang datang sesudah beliau, tentang hukum mentaati dan memerangi penguasa-penguasa tersebut. Juga seperti pertanyaan Hudzaifah yang bertanya tentang fitnah-fitnah dan apa yang harus dia perbuat di saat itu. Imam Ibnu Rajab Al Hanbali berkata โ€ Dan tidaklah Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan keringanan dalam pertanyaan-pertanyaan kecuali untuk orang-orang Badui atau para utusan yang datang kepada beliau dan yang semisal dengan mereka, untuk menjinakkan hati mereka. Adapun orang-orang Muhajirin dan Anshar yang tinggal di Madinah yang keimanan di hati mereka telah kokoh dilarang untuk banyak bertanyaโ€ . Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Nawwas bin Samโ€™an radhiyallahu anhu, beliau berkata โ€œAku telah tinggal bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Madinah selama setahun. Tidak ada yang mencegahku untuk hijrah kecuali dilarangnya bertanya. Kebiasaan seseorang dari kami apabila dia telah hijrah, maka dia tidak akan bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam โ€œ.Anas bin Malik radhiyallahu anhu mengatakan โ€œKami sebenarnya sangat banyak ingin bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, namun karena kewibawaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan karena adab kami kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka kami tidak bertanya. Sehingga kami sangat senang ketika ada orang-orang Badui yang datang lalu bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam โ€. Jadi meskipun kadang orang Badui datang dengan pertanyaan yang tidak ada manfaatnya, namun kadang ada pertanyaan mereka yang mana para shahabat mengambil manfaat darinya. Para shahabat sendiri segan bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, namun kalau ada orang Badui yang belum tahu adab dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, macam-macam yang mereka tanyakan. Bahkan kadang orang Badui dimanfaatkan, mereka disuruh bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Karena segannya para shahabat kadang mereka menitip soal kepada orang Badui untuk ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa Ibnu Rajab Al Hanbali ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ berkata bahwa dalam masalah bertanya ini manusia terbagi tiga, yaitu 1 Ada ahlul hadits yang menutup sama sekali pintu pertanyaan, artinya tidak mau banyak bertanya bahkan boleh dikatakan meninggalkan sama sekali pertanyaan, karena kekhawatiran terjatuh dalam larangan ini. Namun orang seperti ini ilmunya tidak banyak manfaatnya, karena kadang ia hanya hamila fiqhi wa laisa bi faqiih orang yang memikul mendengarkan fiqh namun dia tidak faqih/tidak memahaminya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ร‘รตรˆรธรณ รรณรœร‡รฃรถรกรต รรถรžรบรฅรฒ ร›รณรญรบร‘รณ รรณรžรถรญรบรœรฅรฒ ร‘รฆร‡รฅ ร‡รกรŠร‘รฃรฌ รฆ ร‡รˆรค รรˆร‡รค โ€œBoleh jadi orang yang memikul mendengarkan fiqh namun dia tidak faqih tidak memahaminyaโ€.HSR. At Tirmidzy dan Ibnu HibbanSehingga kadang seseorang tahu dalil, hafal Al Quran dan As Sunnah, namun ia tidak dapat mempraktekkannya tidak tahu bagaimana pengamalan dalil-dalil tersebut dalam kehidupan sehari-hari, dan orang yang seperti ini tercela. 2 Ahlur Raโ€™yi orang yang senantiasa mempergunakan akalnya. Apa saja ditanyakan meskipun yang tidak bermanfaat. Ini tentu saja juga hal yang tercela, bahkan ini lebih tercela daripada yang pertama. Karena orang seperti ini akan disibukkan dengan diskusi-diskusi tentang masalah-masalah yang tidak pernah disinggung dalam Al Quran dan As Sunnah, dan dia nantinya hanya mengetahui masalah-masalah yang sifatnya sekedar wawasan tanpa mengetahui Al Quran dan As Sunnah. Imam Malik ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ dan para salaf lainnya sangat membenci yang seperti itu. 3 Ahlul Hadits yang mengumpulkan antara ilmu dan amal. Dia bertanya dengan pertanyaan yang melahirkan amalan, bertanya untuk mengetahui bagaimana mengamalkan dalil-dalil yang telah dihafalkannya, dan inilah golongan yang terbaik. Para salafush shalih sangat menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermanfaat. Mereka sedikit bertanya dan kadang juga tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan kepada mereka. Imam Malik ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ ketika ditanya dengan sekian banyak pertanyaan, namun hanya sedikit yang dijawabnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa itu disebabkan karena banyak pertanyaan yang dilontarkan kepadanya tidak bermanfaat sehingga beliau memandang tidak perlu dijawab. Dan ketika ditanyakan mengapa beliau tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, beliau ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ mengatakan โ€œAllah ๏‰ sendiri berfirman ๏€ฉ รฆรณรญรณร“รบรƒรณรกรตรฆรครณรŸรณ รšรณรครถ ร‡รกร‘รธรตรฆรรถ รžรตรกรถ ร‡รกร‘รธรตรฆรรต รฃรถรครบ รƒรณรฃรบร‘รถ ร‘รณรˆรธรถรญ รฆรณรฃรณร‡ รƒรตรฆรŠรถรญรŠรตรฃรบ รฃรถรครณ ร‡รกรบรšรถรกรบรฃรถ ร…รถรกร‡รธรณ รžรณรกรถรญรกร‡ ๏€จ ร‡รกร…ร“ร‘ร‡ร 85 โ€œDan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah โ€œRoh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikitโ€.Al Israโ€™ 85Artinya kalau kamu tidak butuh masalah itu maka tidak usah kamu tanyakan. Sehingga pernah para shahabat berkumpul, kemudian salah seorang diantara mereka ditanya tentang sesuatu, maka dilemparkan pertanyaan itu dari shahabat yang satu kepada shahabat lainnya sampai kembali kepada shahabat yang ditanya pertama kali. Itu karena mereka sangat menghindari menjawab hal-hal yang tidak bermanfaat. Namun selama pertanyaan itu bermanfaat maka wajib bagi kita menanyakannya dan hendaknya bagi yang mengetahuinya menjawabnya. Dan inilah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang melahirkan amalan. Karena itu seorang muslim hendaknya mengkonsentrasikan diri menuntut ilmu yang bermanfaat, ilmu yang melahirkan amalan, yang jelas-jelas datang dari Al Quran dan As Sunnah. Dan inilah makna โ€œรฆรณร‡รกร‘รธรณร‡ร“รถรŽรตรฆรครณ รรถรญ ร‡รกรบรšรถรกรบรฃรถโ€, orang yang mendalam ilmunya, yaitu orang yang secara lahir mungkin sedikit ilmunya namun semua ilmunya adalah ilmu yang bermanfaat. Sebagaimana firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ รฅรตรฆรณ ร‡รกรธรณรถรญ รƒรณรครบร’รณรกรณ รšรณรกรณรญรบรŸรณ ร‡รกรบรŸรถรŠรณร‡รˆรณ รฃรถรครบรฅรต รรณร‡รญรณร‡รŠรฑ รฃรตรรบรŸรณรฃรณร‡รŠรฑ รฅรตรครธรณ รƒรตรฃรธรต ร‡รกรบรŸรถรŠรณร‡รˆรถ รฆรณรƒรตรŽรณร‘รต รฃรตรŠรณร”รณร‡รˆรถรฅรณร‡รŠรฑ รรณรƒรณรฃรธรณร‡ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รรถรญ รžรตรกรตรฆรˆรถรฅรถรฃรบ ร’รณรญรบร›รฑ รรณรญรณรŠรธรณรˆรถรšรตรฆรครณ รฃรณร‡ รŠรณร”รณร‡รˆรณรฅรณ รฃรถรครบรฅรต ร‡รˆรบรŠรถร›รณร‡รรณ ร‡รกรบรรถรŠรบรครณร‰รถ รฆรณร‡รˆรบรŠรถร›รณร‡รรณ รŠรณรƒรบรฆรถรญรบรกรถรฅรถ รฆรณรฃรณร‡ รญรณรšรบรกรณรฃรต รŠรณรƒรบรฆรถรญรบรกรณรฅรต ร…รถรกร‡รธรณ ร‡รกรกรฅรต รฆรณร‡รกร‘รธรณร‡ร“รถรŽรตรฆรครณ รรถรญ ร‡รกรบรšรถรกรบรฃรถ รญรณรžรตรฆรกรตรฆรครณ รรณร‡รฃรณรครธรณร‡ รˆรถรฅรถ รŸรตรกรธรฑ รฃรถรครบ รšรถรครบรรถ ร‘รณรˆรธรถรครณร‡ รฆรณรฃรณร‡ รญรณรธรณรŸรธรณร‘รต ร…รถรกร‡รธรณ รƒรตรฆรกรตรฆ ร‡รบรกรƒรณรกรบรˆรณร‡รˆรถ ๏€จ ร‚รก รšรฃร‘ร‡รค 7 โ€œDia-lah yang menurunkan Al Kitab Al Qurโ€™an kepada kamu. Di antara isi nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qurโ€™an dan yang lain ayat-ayat mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari taโ€™wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui taโ€™wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata โ€œKami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.โ€ Dan tidak dapat mengambil pelajaran daripadanya melainkan orang-orang yang berakalโ€.Ali Imran 7 Di sini Allah subhaanahu wa taโ€™ala membedakan antara orang yang suka bertanya dengan pertanyaan yang tidak bermanfaat dengan orang yang mendalam ilmunya. Allah subhaanahu wa taโ€™ala mengatakan bahwa โ€œOrang yang ada kebengkokan dalam hatinya senantiasa membahas ayat-ayat mutasyabihat ayat-ayat yang tidak jelasโ€, lalu tidak ada manfaatnya, Allah subhaanahu wa taโ€™ala diamkan, lalu mereka menyangka telah melakukan suatu kebaikan atau berilmu dengannya, padahal tidak. Allah subhaanahu wa taโ€™ala berfirman โ€œโ€ฆ Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata โ€œKami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.โ€ Adapun orang-orang yang mendalam ilmunya, mereka mengatakan โ€œKami cukup beriman saja kepada ayat-ayat mutasyabihat itu, kami tidak perlu membahasnyaโ€. Lihatlah, orang yang Allah ๏‰ katakan ilmunya mendalam adalah mereka yang tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal yang syubhat dan masalah-masalah yang memang didiamkan oleh Allah ๏‰ dan tidak melahirkan amalan. Bukan orang-orang yang banyak diskusinya, banyak bicaranya, dan sebagainya. Orang yang mendalam ilmunya adalah orang yang tahu betul kapan ia mesti berbicara dan kapan ia mesti diam, yang berbicara dengan perkataan Allah subhaanahu wa taโ€™ala dan Rasul-Nya. Karenanya ulama kita mengatakan bahwa โ€œAr Raasikhuuna fil ilmiโ€ adalah ร‡รกรบรฃรตรŠรณรฆรณร‡ร–รถรšรตรฆรบรครณ รกรกรฅรถ รฆรณ ร‡รกรบรฃรตรŠรณรณรกรธรถรกรตรฆรบรครณ รกรกรฅรถ รรญรถ รฃรณร‘รบร–รณร‡รŠรถรฅรถ รกร‡รณ รญรณรŠรณรšรณร‡ร˜รตรฆรบรครณ รฃรณรครบ รรณรฆรบรžรณรฅรตรฃรบ รฆรณ รกร‡รณ รญรณรรบรžรถร‘รตรฆรบรครณ รฃรณรครบ รรตรฆรบรครณรฅรตรฃรบ โ€œOrang-orang yang tawadhuโ€™ kepada Allah, yang menghinakan dirinya di hadapan Allah dalam keridhoan-Nya, โ€ฆ..โ€ ????Itulah orang-orang yang dikatakan โ€œAr Raasikhuuna fil ilmiโ€, dan itulah yang patut untuk kita teladani dan patut kita mengambil ilmu darinya. Diriwayatkan dari Imam Ahmad ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ ketika ditanya tentang orang yang bisa dijadikan mufti sesudah beliau, maka beliau ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ berkata โ€œAbdul Wahhab bin Warraqโ€. Lalu dikatakan kepada beliau bahwa dia itu tidak luas ilmunya. Maka kata Imam Ahmad ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ ร…รถรครธรณรœรฅรต ร‘รณรŒรตรกรฑ ร•รณร‡รกรถรรฑ รฃรถร‹รบรœรกรตรฅรต รญรณรฆรณรรธรณรžรต รกร…รถร•รณร‡รˆรณร‰รถ ร‡รกรบรรณรžรธรถ โ€œDia adalah lelaki yang shalih, orang yang seperti itu akan diberikan taufiq oleh Allah untuk senantiasa berada di dalam kebenaranโ€. Jadi walaupun dikatakan ilmunya tidak luas akan tetapi jika dia adalah orang yang shalih, maka patut kita mengambil darinya, karena Allah ๏‰ akan memberikan taufiq kepadanya untuk menjalankan kebenaran. * Ikhtilaf perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka รŽรŠรกร‡รรฅรฃ รšรกรฌ รƒรครˆรญร‡ร†รฅรฃ ร‡Yang dimaksudkan dengan ikhtilaf di sini adalah mukhaalafah, yaitu mereka menyelisihi ajaran nabi-nabi mereka. Dan inilah sebab kehancuran dan kebinasaan ummat-ummat terdahulu ketika mereka menyelisihi nabi-nabi mereka, dalam artian tidak menaati ajaran-ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi Allah subhaanahu wa taโ€™ala. Hal ini telah banyak diungkapkan oleh Allah subhaanahu wa taโ€™ala dalam Al Quran, tentang ummat-ummat terdahulu, terutama dari kalangan Bani Israil, kaum yang paling banyak diutus kepadanya para nabi. Bani Israil adalah kaum yang paling banyak diberikan nikmat oleh Allah subhaanahu wa taโ€™ala, dan diantara nikmat terbesar yang Allah subhaanahu wa taโ€™ala berikan kepada mereka adalah diutusnya sekian banyak nabi kepada mereka. Sehingga Allah subhaanahu wa taโ€™ala menyebutkan minimal tiga kali dalam Al Quran tentang nikmat-nikmat yang seharusnya mereka syukuri. Allah subhaanahu wa taโ€™ala berfirman ๏€ฉ รญรณร‡รˆรณรครถรญ ร…รถร“รบร‘รณร‡ร†รถรญรกรณ ร‡รบรŸรตร‘รตรฆร‡ รครถรšรบรฃรณรŠรถรญรณ ร‡รกรธรณรŠรถรญ รƒรณรครบรšรณรฃรบรŠรต รšรณรกรณรญรบรŸรตรฃรบ รฆรณรƒรณรฆรบรรตรฆร‡ รˆรถรšรณรฅรบรรถรญ รƒรตรฆรรถ รˆรถรšรณรฅรบรรถรŸรตรฃรบ รฆรณร…รถรญรธรณร‡รญรณ รรณร‡ร‘รบรฅรณรˆรตรฆรครถ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 40 โ€œHai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut tundukโ€.Al Baqarah 40Juga dalam firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ รญรณร‡รˆรณรครถรญ ร…รถร“รบร‘รณร‡ร†รถรญรกรณ ร‡รบรŸรตร‘รตรฆร‡ รครถรšรบรฃรณรŠรถรญรณ ร‡รกรธรณรŠรถรญ รƒรณรครบรšรณรฃรบรŠรต รšรณรกรณรญรบรŸรตรฃรบ รฆรณรƒรณรครธรถรญ รรณร–รธรณรกรบรŠรตรŸรตรฃรบ รšรณรกรณรฌ ร‡รกรบรšรณร‡รกรณรฃรถรญรครณ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 47 โ€œHai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan ingatlah pula bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umatโ€.Al Baqarah 47 Demikian pula dalam firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ รญรณร‡รˆรณรครถรญ ร…รถร“รบร‘รณร‡ร†รถรญรกรณ ร‡รบรŸรตร‘รตรฆร‡ รครถรšรบรฃรณรŠรถรญรณ ร‡รกรธรณรŠรถรญ รƒรณรครบรšรณรฃรบรŠรต รšรณรกรณรญรบรŸรตรฃรบ รฆรณรƒรณรครธรถรญ รรณร–รธรณรกรบรŠรตรŸรตรฃรบ รšรณรกรณรฌ ร‡รกรบรšรณร‡รกรณรฃรถรญรครณ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 122 โ€œHai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umatโ€.Al Baqarah 122 Di sini Allah subhaanahu wa taโ€™ala mengingatkan kepada Bani Israil bahwa mereka telah diberikan niโ€™mat yang banyak dan diutamakan dari kaum-kaum yang ada pada zamannya, dan salah satu niโ€™mat yang terbesar adalah diutusnya banyak nabi kepada mereka. Pengutusan seorang nabi/rasul adalah niโ€™mat yang paling besar, karena dengannyalah kita dapat mengetahui hakikat kehidupan kita, bagaimana kita mengarungi kehidupan selama dunia ini, sehingga Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah ร‘รรฃรฅ ร‡รกรกรฅ mengatakan bahwa โ€œHajat manusia kepada pengutusan rasul lebih besar daripada hajatnya kepada makan dan minumโ€. Jadi kalau diutus kepada Bani Israil rasul yang begitu banyak maka berarti Allah subhaanahu wa taโ€™ala telah memberikan nikmat yang banyak kepada mereka. Namun sangat disayangkan, kaum Bani Israil tidak menerima nikmat itu dengan sikap yang benar, tidak membalas nikmat itu dengan kesyukuran. Bahkan mereka mendurhakai nabi-nabi mereka, tidak mau menaati ajaran-ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi mereka itu. Bahkan lebih dari itu, Allah subhaanahu wa taโ€™ala mengatakan bahwa Bani Israil adalah kaum yang membunuh nabi-nabi mereka. Mereka tidak mencukupkan dengan tidak mau mendengar, membangkang, bahkan lebih dari itu mereka sampai membunuh nabi-nabi mereka. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ รฆรณร–รตร‘รถรˆรณรŠรบ รšรณรกรณรญรบรฅรถรฃรต ร‡รกรธรถรกรธรณร‰รต รฆรณร‡รกรบรฃรณร“รบรŸรณรครณร‰รต รฆรณรˆรณร‡รรตรฆร‡ รˆรถร›รณร–รณรˆรฒ รฃรถรครณ ร‡รกรกรฅรถ รณรกรถรŸรณ รˆรถรƒรณรครธรณรฅรตรฃรบ รŸรณร‡รครตรฆร‡ รญรณรŸรบรรตร‘รตรฆรครณ รˆรถร‚รญรณร‡รŠรถ ร‡รกรกรฅรถ รฆรณรญรณรžรบรŠรตรกรตรฆรครณ ร‡รกรครธรณรˆรถรญรธรถรญรครณ รˆรถร›รณรญรบร‘รถ ร‡รกรบรรณรžรธรถ รณรกรถรŸรณ รˆรถรฃรณร‡ รšรณร•รณรฆรบร‡ รฆรณรŸรณร‡รครตรฆร‡ รญรณรšรบรŠรณรรตรฆรครณ ๏€จ ร‡รกรˆรžร‘ร‰ 61 โ€œLalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu terjadi karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu terjadi karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batasโ€.Al Baqarah 61 Juga dalam firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ ร…รถรครธรณ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รญรณรŸรบรรตร‘รตรฆรครณ รˆรถร‚รญรณร‡รŠรถ ร‡รกรกรธรณรฅรถ รฆรณรญรณรžรบรŠรตรกรตรฆรครณ ร‡รกรครธรณรˆรถรญรธรถรญรครณ รˆรถร›รณรญรบร‘รถ รรณรžรธรฒ รฆรณรญรณรžรบรŠรตรกรตรฆรครณ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รญรณรƒรบรฃรตร‘รตรฆรครณ รˆรถร‡รกรบรžรถร“รบร˜รถ รฃรถรครณ ร‡รกรครธรณร‡ร“รถ รรณรˆรณร”รธรถร‘รบรฅรตรฃรบ รˆรถรšรณรณร‡รˆรฒ รƒรณรกรถรญรฃรฒ ๏€จ ร‚รก รšรฃร‘ร‡รค 21 โ€œSesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedihโ€. Ali Imran 21Demikian pula dalam firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ ร–รตร‘รถรˆรณรŠรบ รšรณรกรณรญรบรฅรถรฃรต ร‡รกรธรถรกรธรณร‰รต รƒรณรญรบรครณ รฃรณร‡ ร‹รตรžรถรรตรฆร‡ ร…รถรกร‡รธรณ รˆรถรรณรˆรบรกรฒ รฃรถรครณ ร‡รกรกรฅรถ รฆรณรรณรˆรบรกรฒ รฃรถรครณ ร‡รกรครธรณร‡ร“รถ รฆรณรˆรณร‡รรตรฆร‡ รˆรถร›รณร–รณรˆรฒ รฃรถรครณ ร‡รกรกรฅรถ รฆรณร–รตร‘รถรˆรณรŠรบ รšรณรกรณรญรบรฅรถรฃรต ร‡รกรบรฃรณร“รบรŸรณรครณร‰รต รณรกรถรŸรณ รˆรถรƒรณรครธรณรฅรตรฃรบ รŸรณร‡รครตรฆร‡ รญรณรŸรบรรตร‘รตรฆรครณ รˆรถร‚รญรณร‡รŠรถ ร‡รกรกรฅรถ รฆรณรญรณรžรบรŠรตรกรตรฆรครณ ร‡รบรกรƒรณรครบรˆรถรญรณร‡รรณ รˆรถร›รณรญรบร‘รถ รรณรžรธรฒ รณรกรถรŸรณ รˆรถรฃรณร‡ รšรณร•รณรฆรบร‡ รฆรณรŸรณร‡รครตรฆร‡ รญรณรšรบรŠรณรรตรฆรครณ ๏€จ ร‚รก รšรฃร‘ร‡รค 112 โ€œMereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali agama Allah dan tali perjanjian dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batasโ€. Ali Imran 112 Dalam ayat-ayat di atas disebutkan bahwa sebab ditimpakannya kehinaan, kemurkaan dan adzab yang pedih kepada mereka, yaitu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah subhaanahu wa taโ€™ala dan membunuh nabi-nabi mereka. Dan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits ini, maka yang dapat membinasakan ummat adalah ketika ummat tersebut mendurhakai rasul-rasul mereka. Dan jika kita telaah kisah-kisah ummat terdahulu, kita akan dapatkan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ini. Dimulai dari rasul yang pertama diutus ke muka bumi ini, yakni Nabi Nuh alaihissalam, kita akan dapati bahwa penyebab diadzabnya ummat beliau adalah ketika mereka mendurhakai ajaran yang dibawa oleh Nabi Nuh alaihissalam, sebagaimana yang Allah subhaanahu wa taโ€™ala sebutkan dalam surah Nuh. Surah ini mulai dari awal sampai akhir mengisahkan daโ€™wah rasul yang pertama, Nabi Nuh alaihissalam, yang begitu sabar dalam mendaโ€™wahkan risalah ini kepada ummatnya, sampai-sampai Allah subhaanahu wa taโ€™ala mengatakan bahwa beliau diutus selama 950 tahun QS. 29 14 kepada ummatnya. Dan beliau telah menempuh berbagai cara dalam daโ€™wah, baik itu daโ€™wah sirriyyah maupun jahriyyah, mendatangi kaumnya siang dan malam, namun mereka tetap membangkang. Akhirnya Allah ๏‰ subhaanahu wa taโ€™ala mengadzab mereka dengan air bah yang menghabiskan semua manusia yang ada kecuali orang-orang yang beriman. Allah subhaanahu wa taโ€™ala berfirman ๏€ฉ รฃรถรฃรธรณร‡ รŽรณร˜รถรญร†รณร‡รŠรถรฅรถรฃรบ รƒรตร›รบร‘รถรžรตรฆร‡ รรณรƒรตรรบรŽรถรกรตรฆร‡ รครณร‡ร‘ร‡ รรณรกรณรฃรบ รญรณรŒรถรรตรฆร‡ รกรณรฅรตรฃรบ รฃรถรครบ รรตรฆรครถ ร‡รกรกรฅรถ รƒรณรครบร•รณร‡ร‘ร‡ ๏€จ รครฆร 25 โ€œDisebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allahโ€. Nuh 25Maksud โ€œdisebabkan kesalahan-kesalahan merekaโ€, yaitu dosa-dosa mereka ketika mereka membangkang dari ajaran nabi Nuh alaihissalam. Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud dari โ€œmereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke nerakaโ€, yaitu mereka dimasukkan ke dalam api yang ada di dalam lautan itu. Dan sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa mereka dimasukkan ke neraka. Ini menunjukan bahwa akibat pembangkangan suatu kaum terhadap dakwah seorang nabi adalah diadzabnya kaum tersebut. Demikian pula mengenai kisah Nabi Shalih alaihissalam dan kaumnya, sebagaimana yang disebutkan dalam surat Asy Syams 11-15. Di ayat ini kaum Tsamud diuji dengan unta yang Allah subhaanahu wa taโ€™ala datangkan, lalu dikatakan kepada mereka bahwa unta ini datang dari Allah subhaanahu wa taโ€™ala maka hendaknya mereka menjaganya dengan baik dan menghormatinya, membiarkannya minum dan melakukan apa yang dia inginkan. Namun mereka mendustakannya, bukan hanya melarang unta itu minum, bahkan mereka menyembelih unta tersebut, karena kedustaan dan pembangkangan mereka terhadap nabi mereka, sehingga Allah subhaanahu wa taโ€™ala mengadzab mereka. Allah subhaanahu wa taโ€™ala berfirman ๏€ฉ รรณรŸรณรธรณรˆรตรฆรฅรต รรณรšรณรžรณร‘รตรฆรฅรณร‡ รรณรรณรฃรบรรณรฃรณ รšรณรกรณรญรบรฅรถรฃรบ ร‘รณรˆรธรตรฅรตรฃรบ รˆรถรณรครบรˆรถรฅรถรฃรบ รรณร“รณรฆรธรณร‡รฅรณร‡ ๏€จ ร‡รกร”รฃร“ 14 โ€œLalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka dengan tanahโ€.Asy Syams 14 Demikian pula di surat Hud dapat kita lihat kesudahan yang buruk bagi mereka yang membangkang kepada rasul-rasul mereka. Mulai di ayat 24 sampai ayat 100 dikisahkan tentang ummat-ummat terdahulu dan bagaimana akibat pembangkangan mereka kepada para nabi mereka, mulai nabi Nuh alaihissalam sampai nabi Musa alaihissalam. Dan yang paling banyak membangkang adalah ummat Bani Israil dengan nabi mereka Musa alaihissalam. Dan hadits ini yang dimaksudkan lebih khusus kepada Bani Israil, yakni ummat Yahudi, yang mana nabi mereka Musa alaihissalam adalah salah satu ulul azmi, namun mereka tidak menghormati rasul mereka yang mulia Musa alaihissalam, bahkan mereka mencelanya. Sebagaimana kisah ketika mereka melakukan kebiasaan yang buruk di antara mereka, yaitu mandi secara bersama-sama, namun Nabi Musa alaihissalam tidak mau ikut bersama mereka. Lalu mereka menuduh bahwa Nabi Musa alaihissalam berpenyakit kulit dan tidak mau dilihat aibnya tersebut. Karenanya Allah alaihissalam berfirman ๏€ฉ รญรณร‡รƒรณรญรธรตรฅรณร‡ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รรณร‡รฃรณรครตรฆร‡ รกร‡รณ รŠรณรŸรตรฆรครตรฆร‡ รŸรณร‡รกรธรณรถรญรครณ รรณร‡รณรฆรบร‡ รฃรตรฆร“รณรฌ รรณรˆรณร‘รธรณรƒรณรฅรต ร‡รกรกรฅรต รฃรถรฃรธรณร‡ รžรณร‡รกรตรฆร‡ รฆรณรŸรณร‡รครณ รšรถรครบรรณ ร‡รกรกรฅรถ รฆรณรŒรถรญรฅร‡ ๏€จ ร‡รกรƒรร’ร‡รˆ 69 โ€œHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allahโ€.Al Ahzab 69 Ini adalah peringatan bagi kita untuk tidak menyerupai Bani Israil yang telah menyakiti Musa. Demikian pula ketika nabi Musa alaihissalam mengajak Bani Israil untuk berperang, namun mereka justru mengatakan sebagaimana dalam firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ รžรณร‡รกรตรฆร‡ รญรณร‡รฃรตรฆร“รณรฌ ร…รถรครธรณร‡ รกรณรครบ รครณรรบรŽรตรกรณรฅรณร‡ รƒรณรˆรณรร‡ รฃรณร‡ รรณร‡รฃรตรฆร‡ รรถรญรฅรณร‡ รรณร‡รบรฅรณรˆรบ รƒรณรครบรŠรณ รฆรณร‘รณรˆรธรตรŸรณ รรณรžรณร‡รŠรถรกร‡รณ ร…รถรครธรณร‡ รฅรณร‡รฅรตรครณร‡ รžรณร‡รšรถรรตรฆรครณ ๏€จ ร‡รกรฃร‡ร†รร‰ 24 โ€œMereka berkata โ€œHai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.โ€Al Maidah 24Inilah pembangkangan mereka. Makanya ketika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mengajak para shahabat untuk berperang, maka para shahabat bersegera mengatakan โ€œYa Nabiyallah, kami tidak akan mengatakan sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Bani Israil kepada nabi merekaโ€. Semua contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa pembangkangan terhadap nabi dan rasul adalah sebab kehancuran suatu ummat. Dan inilah yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tahdzir peringatkan kepada kita agar tidak sampai jatuh kepada hal seperti itu. Dan hal ini tidak hanya berlaku kepada ummat yang terdahulu, akan tetapi ummat ini juga, ketika menyelisihi rasulnya maka akan tertimpa kehancuran sebagaimana yang ditimpakan oleh Allah subhaanahu wa taโ€™ala kepada ummat-ummat terdahulu. Allah subhaanahu wa taโ€™ala berfirman ๏€ฉ โ€ฆ รรณรกรบรญรณรรบรณร‘รถ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รญรตรŽรณร‡รกรถรรตรฆรครณ รšรณรครบ รƒรณรฃรบร‘รถรฅรถ รƒรณรครบ รŠรตร•รถรญรˆรณรฅรตรฃรบ รรถรŠรบรครณร‰รฑ รƒรณรฆรบ รญรตร•รถรญรˆรณรฅรตรฃรบ รšรณรณร‡รˆรฑ รƒรณรกรถรญรฃรฑ ๏€จ ร‡รกรครฆร‘ 63 โ€œโ€ฆMaka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedihโ€.An Nuur 63 Sebagian ulama mengatakan bahwa โ€œadzab yang pedihโ€ di sini adalah adzab di dunia sebelum adzab di akhirat. Ayat ini menunjukkan bahwa bukan hanya ummat terdahulu saja yang dibinasakan akibat penentangan mereka terhadap ajaran nabi mereka, namun ummat ini juga ketika sudah meninggalkan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan menyelisihi ajaran-ajaran beliau, maka akan dibinasakan oleh Allah subhaanahu wa taโ€™ala. Kekufuran, kesyirikan, dan kenifaqan akan ditimpakan pada hati-hati kita, atau adzab yang pedih akan ditimpakan kepada kita di dunia ini. Dan contoh akibat yang buruk dari menyelisihi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah Allah subhaanahu wa taโ€™ala perlihatkan pada perang Uhud, di zaman generasi yang terbaik. Allah subhaanahu wa taโ€™ala mencontohkan kepada kita sebagai pelajaran bagi kita yang datang sesudah mereka, bahwa kalau saja generasi terbaik akan merasakan akibat yang buruk dari penyelisihan mereka kepada sunnah atau perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka kita juga akan terancam manakala menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Di perang Uhud Nabi shallallahu alaihi wa sallam berpesan kepada pasukan pemanah yang ditugaskan menjaga bukit Uhud untuk tidak meninggalkan tempat mereka sebelum diizinkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan pada awal-awal peperangan, kaum muslimin mendapatkan kemenangan yang besar, bahkan bisa mengkocar-kacirkan pasukan kafir quraisy sehingga mereka lari dan meninggalkan harta mereka. Di saat itulah sebagian pasukan pemanah tergoda dengan harta tersebut, lalu mereka turun dari bukit dan lupa akan pesan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Walaupun mereka telah diingatkan oleh pemimpin pasukan pemanah, namun mereka tidak mengindahkannya dengan alasan bahwa orang kafir telah lari dan saatnya untuk mengambil apa yang ditinggalkan oleh mereka. Disitulah Allah subhaanahu wa taโ€™ala menunjukkan akibat buruk dari menyelisihi perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu Allah subhaanahu wa taโ€™ala dengan iradahnya yang kauni memperlihatkan pemandangan itu kepada Kholid bin Walid waktu itu masih kafir, lalu dengan ketangkasannya dalam perang dia memamfaatkan kesempatan itu untuk menghancurkan pasukan kaum muslimin dari belakang. Disitulah kaum muslimin mendapatkan fitnah/cobaan yang begitu besar, sehingga banyak diantara mereka yang terbunuh, bahkan sampai timbul isu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah terbunuh, namu isu tersebut tidak benar, tapi beliau shallallahu alaihi wa sallam sampai terluka dan patah gigi seri beliau shallallahu alaihi wa sallam, dan disitulah beliau bersabda รŸรณรญรบรรณ รญรตรรบรกรถรรต รžรณรฆรบรฃรฑ ร”รณรŒรธรตรฆร‡ รครณรˆรถรญรธรณรฅรตรฃรบ รฆรณรŸรณร“รณร‘รตรฆร‡ ร‘รณรˆรณร‡รšรถรญรณรŠรณรฅรต ร‘รฆร‡รฅ รฃร“รกรฃ รฆ ร‡รกรŠร‘รฃรญ รฆ รƒรรฃร รšรณรครบ รƒรณรครณร“รฒ โ€œBagaimana bisa beruntung suatu kaum yang melukai nabi mereka dan mematahkan โ€ฆโ€ฆโ€.HR. Muslim, At Tirmidzi dan Ahmad dari Anas radhiyallahu anhu Hadits ini menunjukkan bahwa menyelisihi rasul dan mendurhakainya adalah sebab kehancuran dan sebab tidak akan menangnya ummat ini. Dan sekaligus menunjukkan bahwa keberuntungan/kejayaan ummat ini sangat ditentukan oleh sejauh mana ketaatan kita kepada rasul kita. Dan kapan kita melakukan yang sebaliknya maka akan datang kepada kita kebinasaan sebagaimana kebinasaan yang telah ditimpakan kepada ummat-ummat terdahulu. Allah subhaanahu wa taโ€™ala mengingatkan akan hal ini dalam banyak keterangan dan secara umum dalam setiap jihad Allah subhaanahu wa taโ€™ala mengingatkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada Allah subhaanahu wa taโ€™ala dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar kemenangan itu bisa tercapai, sebagaimana firman Allah subhaanahu wa taโ€™ala ๏€ฉ รญรณร‡รƒรณรญรธรตรฅรณร‡ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รรณร‡รฃรณรครตรฆร‡ ร…รถรณร‡ รกรณรžรถรญรŠรตรฃรบ รรถร†รณร‰ รรณร‡ร‹รบรˆรตรŠรตรฆร‡ รฆรณร‡รบรŸรตร‘รตรฆร‡ ร‡รกรกรฅรณ รŸรณร‹รถรญร‘ร‡ รกรณรšรณรกรธรณรŸรตรฃรบ รŠรตรรบรกรถรรตรฆรครณ . รฆรณรƒรณร˜รถรญรšรตรฆร‡ ร‡รกรกรฅรณ รฆรณร‘รณร“รตรฆรกรณรฅรต รฆรณรกร‡รณ รŠรณรครณร‡ร’รณรšรตรฆร‡ รรณรŠรณรรบร”รณรกรตรฆร‡ รฆรณรŠรณรบรฅรณรˆรณ ร‘รถรญรรตรŸรตรฃรบ รฆรณร‡ร•รบรˆรถร‘รตรฆร‡ ร…รถรครธรณ ร‡รกรกรฅรณ รฃรณรšรณ ร‡รกร•รธรณร‡รˆรถร‘รถรญรครณ . รฆรณรกร‡รณ รŠรณรŸรตรฆรครตรฆร‡ รŸรณร‡รกรธรณรถรญรครณ รŽรณร‘รณรŒรตรฆร‡ รฃรถรครบ รรถรญรณร‡ร‘รถรฅรถรฃรบ รˆรณร˜รณร‘ร‡ รฆรณร‘รถร†รณร‡รรณ ร‡รกรครธรณร‡ร“รถ รฆรณรญรณร•รตรรธรตรฆรครณ รšรณรครบ ร“รณรˆรถรญรกรถ ร‡รกรกรฅรถ รฆรณร‡รกรกรฅรต รˆรถรฃรณร‡ รญรณรšรบรฃรณรกรตรฆรครณ รฃรตรรถรญร˜รฑ ๏€จ ร‡รกรƒรครร‡รก 47 โ€œHai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan musuh, maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi orang dari jalan Allah. Dan ilmu Allah meliputi apa yang mereka kerjakanโ€.Al Anfal 45 โ€“ 47 Jadi menaati Allah subhaanahu wa taโ€™ala dan Rasul-Nya adalah syarat mutlak untuk meraih kemenangan dan kejayaan ummat, dan sekaligus menunjukkan bahwa kapan kita tidak melakukan hal tersebut maka akan ditimpakan kepada kita kebinasaan sebagaimana ummat-ummat hadits ini menyebutkan dua sebab binasanya ummat terdahulu, dan tentu saja ini bukan pembatasan bukan hanya dua hal saja yang membinasakan ummat terdahulu, namun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan di sini karena berhubungan dengan perkataan beliau sebelumnya. Jadi penyebab keruntuhan ummat terdahulu sebenarnya sangat banyak, akan tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang kita tasyabbuh dengan dua masalah di hadits ini karena berkaitan dengan masalah yang beliau sebutkan pertama kali dalam hadits ini, atau karena berhubungan dengan sebab disebutkannya hadits ini, yaitu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan suatu masalah kemudian ada yang banyak bertanya, seakan-akan mau menggugat kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa yang dapat mengakibatkan kebinasaan kita sebagaimana telah binasa ummat terdahulu adalah dua sebab, yaitu banyak bertanya ketika telah ditetapkan suatu perintah lalu masih banyak pertanyaan yang seakan-akan menggugat kebijaksanaan tersebut dan menyelisihi apa yang telah ditetapkan oleh nabi-nabi mereka. Apa yang telah ditetapkan tidak lagi perlu ditanyakan, tetapi sikap kita ketika telah ditetapkan suatu urusan hanyalah samiโ€™naa wa athaโ€™naa saja, tidak ada lagi kata-kata yang lain. Tidak perlu lagi bertanya sebagaimana pertanyaan orang-orang Yahudi, dan tidak perlu lagi menggugat kebijaksanaan Allah subhaanahu wa taโ€™ala dengan mengatakan โ€œmengapa begini dan begituโ€. Namun hendaknya langsung kita amalkan tanpa ada rasa keberatan sedikitpun. Sikap yang benar adalah sebagaimana yang Allah ๏‰ firman-Nya ๏€ฉ รฆรณรฃรณร‡ รŸรณร‡รครณ รกรถรฃรตร„รบรฃรถรครฒ รฆรณรกร‡รณ รฃรตร„รบรฃรถรครณร‰รฒ ร…รถรณร‡ รžรณร–รณรฌ ร‡รกรกรฅรต รฆรณร‘รณร“รตรฆรกรตรฅรต รƒรณรฃรบร‘ร‡ รƒรณรครบ รญรณรŸรตรฆรครณ รกรณรฅรตรฃรต ร‡รกรบรŽรถรญรณร‘รณร‰รต รฃรถรครบ รƒรณรฃรบร‘รถรฅรถรฃรบ รฆรณรฃรณรครบ รญรณรšรบร•รถ ร‡รกรกรฅรณ รฆรณร‘รณร“รตรฆรกรณรฅรต รรณรžรณรรบ ร–รณรกรธรณ ร–รณรกร‡รณรกร‡ รฃรตรˆรถรญรคร‡ ๏€จ ร‡รกรƒรร’ร‡รˆ 36 โ€œDan tidaklah patut bagi laki-laki yang muโ€™min dan tidak pula bagi perempuan yang muโ€™min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyataโ€.Al Ahzab 36 Ayat ini menunjukkan bahwa orang mukmin apabila telah ditetapkan suatu urusan oleh Allah subhaanahu wa taโ€™ala dan Rasul-Nya, maka tidak ada lagi pilihan, dia langsung menerima tanpa banyak bertanya, apalagi sampai menyelisihi apa yang telah ditetapkan oleh Allah subhaanahu wa taโ€™ala dan Rasul-Nya. Dan ini lebih ditegaskan lagi oleh Allah subhaanahu wa taโ€™ala dalam firman-Nya ๏€ฉ ร…รถรครธรณรฃรณร‡ รŸรณร‡รครณ รžรณรฆรบรกรณ ร‡รกรบรฃรตร„รบรฃรถรครถรญรครณ ร…รถรณร‡ รรตรšรตรฆร‡ ร…รถรกรณรฌ ร‡รกรกรฅรถ รฆรณร‘รณร“รตรฆรกรถรฅรถ รกรถรญรณรรบรŸรตรฃรณ รˆรณรญรบรครณรฅรตรฃรบ รƒรณรครบ รญรณรžรตรฆรกรตรฆร‡ ร“รณรฃรถรšรบรครณร‡ รฆรณรƒรณร˜รณรšรบรครณร‡ รฆรณรƒรตรฆรกรณร†รถรŸรณ รฅรตรฃรต ร‡รกรบรฃรตรรบรกรถรรตรฆรครณ ๏€จ ร‡รกรครฆร‘ 51 โ€œSesungguhnya jawaban orang-orang muโ€™min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum mengadili di antara mereka ialah ucapan.โ€ โ€œKami mendengar dan kami patuh.โ€ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntungโ€.An Nuur 51 ร…รถรครธรณรฃร‡ hanya saja disini maknanya adalah pembatasan, yaitu bahwasanya perkataan orang-orang beriman hanyalah โ€œKami mendengar dan kami taatโ€. Dan ini sangat berbeda dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi, โ€œร“รณรฃรถรšรบรครณร‡ รฆรณรšรณร•รณรญรบรครณร‡ โ€œ, kami memang mendengar, tapi kami mau bermaksiat, dengan entengnya mereka mengatakan seperti itu. Karenanya Allah subhaanahu wa taโ€™ala berfirman dalam surah Al Anfaal ๏€ฉ รญรณร‡รƒรณรญรธรตรฅรณร‡ ร‡รกรธรณรถรญรครณ รรณร‡รฃรณรครตรฆร‡ รƒรณร˜รถรญรšรตรฆร‡ ร‡รกรกรฅรณ รฆรณร‘รณร“รตรฆรกรณรฅรต รฆรณรกร‡รณ รŠรณรฆรณรกรธรณรฆรบร‡ รšรณรครบรฅรต รฆรณรƒรณรครบรŠรตรฃรบ รŠรณร“รบรฃรณรšรตรฆรครณ . รฆรณรกร‡รณ รŠรณรŸรตรฆรครตรฆร‡ รŸรณร‡รกรธรณรถรญรครณ รžรณร‡รกรตรฆร‡ ร“รณรฃรถรšรบรครณร‡ รฆรณรฅรตรฃรบ รกร‡รณ รญรณร“รบรฃรณรšรตรฆรครณ ๏€จ ร‡รกรƒรครร‡รก 20-21 โ€œHai orang-orang yang beriman, ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar perintah-perintah-Nya, dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang munafik yang berkata โ€œKami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkanโ€.Al Anfal 20 โ€“ 21โ€œMereka tidak mendengarkanโ€, artinya Allah subhaanahu wa taโ€™ala menafikan pendengaran hati mereka. Jadi mendengarkan dengan telinga saja tidak cukup dianggap mendengarkan. Karenanya Allah subhaanahu wa taโ€™ala mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang bisu dan tuli karena tidak mau mengambil manfaat dari apa yang telah dinasehatkan oleh Allah subhaanahu wa taโ€™ala dan Rasul-Nya. Jadi dari hadits ini menunjukkan bagaimana sesungguhnya sifat seorang muslim. Ketika Allah subhaanahu wa taโ€™ala telah menetapkan perintah maka ia mengerjakan sekemampuannya, dan ketika datang larangan langsung ditinggalkan, tanpa banyak bertanya. Seakan-akan maksud Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, apa yang telah aku perintahkan maka kerjakanlah sekemampuanmu, dan apa yang telah aku larang maka tinggalkanlah, dan jangan kalian banyak bertanya dan jangan kalian menyelisihi, karena kapan kalian banyak bertanya dan menyelisihi maka kalian akan binasa sebagaimana telah binasa ummat-ummat terdahulu. TAKHRIJ HADITSHadits ini diriwayatkan oleh beberapa imam hadits, yaitu 1. Imam Bukhari dalam Shohihnya,2. Imam Muslim dalam Shohihnya,3. Imam An Nasaai dalam Sunannya,4. Imam Ahmad dalam Musnadnya,5. Imam Ibnu Hibban dalam Shohihnya โ€“ ร‘รรฃรฅรฃ ร‡รกรกรฅ รƒรŒรฃรšรญรค โ€“Adapun hadits dengan lafazh yang disebutkan diatas hanya dikeluarkan oleh Imam Muslim dari riwayat Az Zuhri dari Said bin Musayyib dan Abu Salamah yang keduanya meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Pada hadits Al-Arbaโ€™in ke-9, disebutkan pembahasan tentan mengerjakan perintah sesuai dengan batas kemampuan seseorang. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Lafal hadits lebih dekat ke Muslim. Nabi Muhammad Shallahu Alaihi WA Sallam bersabda ู…ูŽุง ู†ูŽู‡ูŽูŠู’ุชููƒูู…ู’ ุนูŽู†ู’ู‡ูุŒ ููŽุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽู…ูŽุฑู’ุชููƒูู…ู’ ุจูู‡ู ูุฃุชูˆุง ู…ูู†ู’ู‡ู ู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽุทูŽุนู’ุชูู…ู’ุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูู…ู’ ูƒูŽุซู’ุฑูŽุฉู ู…ูŽุณูŽุงุฆูู„ูู‡ูู…ู’ุŒ ูˆูŽุงุฎู’ุชูู„ูŽุงููู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ุจููŠูŽุงุฆูู‡ูู…ู’ โ€œApa yang telah aku larang pada kalian, maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan pada kalian, maka kerjakanlah sesuai dengan batas maksimal kesanggupan kalian. Sesungguhnya, yang membinasakan umat terdahulu adalah banyaknya pertanyaan mereka terhadap nabi-nabi mereka.โ€ Diriwayatkan oleh Abu Hurairah; seorang sahabat yang bernama asli Abdurrahman bin Shakhrin. Status hadits ini shahih dan bisa diamalkan. Secara ringkas, ada perbedaan penyikapan dalam menghadapi larangan dan perintah Nabi. Dalam hal larangan, sifatnya mutlak dan harus segera ditinggalkan secara total. Sedangkan dalam hal perintah, dikerjakan sesuai dengan batas maksimal kesanggupan. Mengapa harus batas maksimal? Supaya tidak dijadikan alasan oleh orang yang malas untuk tidak melaksanakan perintah, padahal kenyataannya dirinya masih mampu melaksanakannya. Bila larangan Nabi segera ditinggalkan, dan perintahnya dilakukan semaksimal mungkin sesuai kemampuan, tanpa banyak tanya sebagaimana kaum-kaum terdahulu kepada para nabi mereka, maka akan sampai pada kesuksesan. Sebab, kehancuran kaum terdahulu adalah karena terlalu banyak tanya. Yang ditanyakan begitu banyak sehingga berat melakukannya. Kebanyakan teori, tapi praktik nihil. Syekh Ibnu Utsaimin menyebutkan beberapa pelajaran dari hadits ini Pertama, wajib meninggalkan apa yang dilarang oleh Nabi SAW. Kedua, larangan beliau mencakup yang sedikit dan banyak. Ketiga, meninggalkan sesuatu lebih mudah dari mengerjakan sesuatu. Keempat, tidak wajib melakukan perintah Nabi melainkan sesuai dengan batas kemampuan. Kelima, manusia memiliki batas kemampuan atau kesanggupan. Keenam, jika tidak mampu melaksanakan kewajiban secara keseluruhan, maka harus mengerjakan sesuai yang dia mampu. Ketujuh, tidak seharusnya atau tidak patut orang ketika mendengar perintah Nabi kemudian mengatakan, โ€œApakah ini wajib atau sunnah?โ€ Kedelapan, apa yang diperintahkan dan dilarang Nabi, masuk kategori syariat. Kesembilan, banyak bertanya khususnya dalam perkara yang tidak mungkin untuk dijangkau adalah sebab kehancuran. Kesepuluh, umat terdahulu binasa atau hancur dikarenakan banyak pertanyaan seperti itu. Mereka banyak menyoal para Nabi. Bukan pertanyaan untuk diikuti jawabannya, hanya sekadar bertanya. Intinya, segera tinggalkan larangan Nabi, lakukan secara maksimal sesuai kesanggupan perintahnya dan jangan menjadi orang yang banyak bertanya terhadap sesuatu yang tidak ada faedahnya untuk beramal, niscaya kita akan mendapatkan kesuksesan. Aza Oleh haditsarbain Juni 9, 2007 HADITS KESEMBILAN ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุจู’ู†ู ุตูŽุฎู’ุฑ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู’ู„ู ู…ูŽุง ู†ูŽู‡ูŽูŠู’ุชููƒูู…ู’ ุนูŽู†ู’ู‡ู ููŽุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆู’ู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽู…ูŽุฑู’ุชููƒูู…ู’ ุจูู‡ู ููŽุฃู’ุชููˆุง ู…ูู†ู’ู‡ู ู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽุทูŽุนู’ุชูู…ู’ุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽูƒูู…ู’ ูƒูŽุซู’ุฑูŽุฉู ู…ูŽุณูŽุงุฆูู„ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงุฎู’ุชูู„ุงูŽููู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ุจููŠูŽุงุฆูู‡ูู…ู’ . [ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู…] Terjemah hadits / ุชุฑุฌู…ุฉ ุงู„ุญุฏูŠุซ Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiallahuanhu dia berkata Saya mendengar Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka yang tidak berguna dan penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka. Bukhori dan Muslim Pelajaran 1. Wajibnya menghindari semua apa yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi wasallam. 2. Siapa yang tidak mampu melakukan perbuatan yang diperintahkan secara keseluruhan dan dia hanya mampu sebagiannya saja maka dia hendaknya melaksanakan apa yang dia mampu laksanakan. 3. Allah tidak akan membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. 4. Perkara yang mudah tidak gugur karena perkara yang sulit. 5. Menolak keburukan lebih diutamakan dari mendatangkan kemaslahatan. 6. Larangan untuk saling bertikai dan anjuran untuk bersatu dan bersepakat. 7. Wajib mengikuti Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi wasallam, taโ€™at dan menempuh jalan keselamatan dan kesuksesan. 8. Al Hafiz berkata Dalam hadits ini terdapat isyarat untuk menyibukkan diri dengan perkara yang lebih penting yang dibutuhkan saat itu ketimbang perkara yang saat tersebut belum dibutuhkan. Media Muslim INFO Project Indonesia 1428 H / 2007 M Ditulis dalam 40 Hadis, 40 Hadist, 40 Hadits, Arba'in An Nawawi, Arbin An Nawawi, Hadis Arbain, Hadis Imam Nawawi, Hadits Arba'in, Hadits Arba'in An Nawawi, Hadits Imam Nawawi, Hadits Populer, Hadits Shohih, Imam Nawawi Anda yang pernah belajar di Pondok Pesantren tentu sudah tidak asing lagi dengan kumpulan hadits yang satu ini. Kumpulan hadits karya imam Nawawi ini memang cukup terkenal dan cukup mudah untuk dipelajari tidak hanya di Indonesia namun di seluruh dunia dan menjadi salah satu rujukan umat islam didunia. Hadits arbain nawawi ini sendiri berjumlah 42 hadits sesuai namanya. Pada awalnya, beliau mengumpulkan hadits berjumlah 42 ini agar memudahkan umat islam menghafal hadits karena siapapun yang mampu hafal sekitar 40 hadits dimana didalamnya mengandung perkara-perkara agama maka Allah akan dibangkitkan bersama para Fuqaha dan ulama. Tentang Hadits Nomor 9 Hadits Arbain Nawawi Mempelajari kitab Hadits arbain nawawi ini memang cukup penting karena didalamnya cukup runtut dimana pada bab awal tentang niat dalam melakukan sesuatu. Salah satu hal yang akan dibahas disini adalah pada hadits nomor 9 di kitab arbain nawawi. Pada bab ini disebutkan bahwa Rasulullah SAW menyuruh kita sebagai umatnya melaksanakan perintah sesuai dengan kemampuan. Untuk mengetahui tentang isi hadits, berikut ini isi hadits Arbain yang artinya Dari Abu Hurairah Adurrahman bin Sakhr ia berkata Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda, โ€œApa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintah maka hendaklah kalian laksanakan. Sungguh kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka yang tidak berguna dan penentang nabi-nabi mereka HR. Bukhori dan Muslim. Pada kutipan arti hadits diatas yang berasal dari kitab Hadits arbain nawawi terdapat juga pada kitab Muslim. Pada isi hadits tersebut disebutkan bahwa kita tidak boleh menghindari apa yang diperintahkan kepada kita. Selain itu, pada hadits ini juga disebutkan secara implicit bahwa siapa yang tidak mampu melakukan perbuatan yang diperintahkan secara keseluruhan maka mereka bisa melakukannya semampu mereka. Hal itu sesuai dengan perintah Allah yang terdapat QS. At-Taghabun ayat 16 dimana manusia diwajibkan bertaqwa sesuai dengan kemampuan mereka. Faedah Hadits arbain nawawi Sobat Cahaya islam, jika kita membaca dan mempelajari hadits nomor Sembilan pada kitab Arbain Nawawi tersebut maka kita akan mendapatkan beberapa faedah. Salah satu satu faedah mempelajari Hadits arbain nawawi nomor 9 ini adalah kita tidak boleh melakukan perbuatan yang sudah jelas dilarang dan kita wajib menjauhi kecuali jika kita dalam keadaan darurat yang membolehkan suatu perkara yang sebelumnya dilarang. Selain itu, kita juga wajib mengerjakan apa yang telah diperintahkan. Hal ini juga berlaku selama tidak dalil yang mengatakan bahwa sesuatu perintah disunahkan. Faedah lain yang bisa kita temukan pada Hadits arbain nawawi nomor 9 ini adalah mudahnya agama islam untuk dilaksanakan. Islam mengajarkan bahwa seorang hamba wajib mengerjakan apa yang diperintahkan sesuai dengan kemampuan mereka. Hal itu dikarenakan setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam mengerjakan sesuatu. Dengan kata lain, jika seseorang tidak mampu mengerjakan apa-apa yang diperintahkan, maka ia hanya cukup mengerjakan apa yang mampu mereka kerjakan. Disini kita melihat contoh orang yang sholat. Jika mereka tidak mampu berdiri, mereka bisa duduk, duduk tidak mampu, maka mereka bisa dengan berbaring. Banyak sekali Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk mengerjakan sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan faedah terakhir yang kita bisa dapatkan dari Hadits arbain nawawi nomor 9 sembilan adalah kita tidak boleh banyak bertanya dan menyelisihi para nabi karena hal tersebut telah membinasakan orang-orang/ umat jaman dahulu. Hanya pada hadits nomor 9 saja Sobat Cahaya Islam mampu mempelajari berbagai hal tentang islam, apalagi jika kita mempelajari seluruh isi kitab ini, sudah barang tentu kita mendapatkan banyak faedah tentang agama islam untuk semesta alam.

hadits ke 9 arbain